Gila Pujian itu Menyakitkan!

Tusop.com | Mendapat puji saat berbuat baik, tak masalah. Tapi merasa bangga saat dipuji itu gejala jiwa mulai terjangkit masalah. Dan lebih parah,  berbuat baik karena berharap puji manusia adalah sumber masalah.

Dipuji saat berbuat baik adalah realitas yang tak mungkin dilawan. Adalah hak orang lain untuk memberi aplus atas setiap kebaikan yang dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh kita. Dan pada prinsipnya, pujian tak berimbas buruk bagi kita. Asalkan pujian tak disambut dengan busung dada.

Busung dada saat dipuji adalah gejala awal penyakit 'cinta' pujian. Dimana merasa nyaman dan senang saat dipuji bila tidak tertangani, pada tahap yang lebih kronis akan menjadikan kita pribadi yang 'gila' pujian. 'Kelaianan' ini akan memberikan dampak yang menyakitkan. Tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia.

Dalam kehidupan dunia, pribadi yang gila pujian kerap didera rasa kesal dan kecewa. Dimana realitas bahwa tak selamanya kebaikan akan berbuah pujian adalah fenomena yang tak sejalan dengan harapan. Dan sesungguhnya, berharap puji manusia berarti membeli kesal dan kecewa. Betapa tidak, bagi manusia memuji adalah barang mahal yang tak gampang didapatkan.

Semantara untuk kepentingan akhirat, jelas bahwa gila puji cukup merugikan. Dimana berharap puji manusia atas kebaikan akan melunturkan nilai kebaikan itu sendiri dimata sang pemilik pujian, Allah pemilik semesta alam. (admin)

1 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.