Senin, 23 Januari 2017

Tu Sop: Jangan Sampai Kita Bagaikan Domba-Domba yang Bertarung di Kandang Macan!



Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop) dalam salah satu pidatonya mengatakan, pemilu damai adalah sesuatu yang urgen sekali, di saat kita berada di dalam persaingan global. Hal tersebut disampaikan Tu Sop saat menyampaikan pikiran beliau dalam acara deklarasi Pilkada damai, (28 November 2016).

“Jangan sampai kita bagaikan domba-domba yang sedang bertarung di kandang macan.Yang kalah dimakan macan, yang menang di makan macan kalau kita kalah dalam persaingan global, " “ ujar Tu Sop disambut tepuk tangan hadirin.

Oleh sebab itu, kata Tusop lagi, mari kita sayangi anak-anak kita. Anak-anak kita akan lahir di negeri ini. Buatlah negeri ini yang nyaman untuk mereka.

Tusop juga melarang sorak-sorak hidup Tu Sop karena beliau sadar hidup ini hanyalah sebuah pengabdian, sementara pada saatnya kita semua akan kembali kepada Allah Swt.
“Saya minta kepada timses untuk tidak usah sorak-sorak "Hidup tusop", karena saya pasti mati. Maka oleh karena itu, siapapun boleh menang, baik no 1, 2 3 4 dan 5. Asal anak-anak kita berada di dalam negeri yang memiliki peradaban dan mampu bersaing secara global,” tambahnya lagi.

Tusop juga menegaskan bahwa kehadirannya dalam Pilkada Bireuen semata-mata adalah untuk kedamaian. Tusop tidak mencari musuh.

“Oleh karena itu saya hadir untuk sebuah kedamaian. TIDAK ADA MUSUH DI ANTARA KITA. yang ada adalah persaingan, bukan permusuhan!, “ pungkas Tusop yang disambut tepuk tangan Muspida Bireuen.

Selengkapnya lihat video berikut ini:

Minggu, 22 Januari 2017

[GALERY FOTO] Tusop Kampanye di Jeunieb

Minggu, 22 Januari 2017, pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Bireuen nomor urut 3, Tgk. H. M. Yusuf Abdul Wahab-dr. Purnama Setia Budi, Sp.OG (Tusop-dr. Pur) menggelar kampanye di lapangan polsek Jeunieb.

Berikut foto-fotonya.





Kamis, 19 Januari 2017

Abi Nasruddin Judon: Jika Lawan Politik Memfitnah, Do’akan Mereka!

Tusop berorasi didampingi Tgk Nasruddin Judon (kiri) dan dr Purnama (kanan)



SAMBUNGAN BERITA INI

Sebelumnya, Tgk Nasruddin Judon selaku Ketua Tim Pemenangan pasangan Tusop-dr. Purnama dalam sambutannya mengatakan, misi Nabi Muhammad Saw diutus sebagai Rasul adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. 

Menurut Tgk Nasruddin, memperbaiki akhlak adalah hal yang sangat sukar maka mesti manusia-manusia sempurna yang menanganinya.

“Jadi dalam misi kerasulan Nabi Muhammad tidak pernah berkata atau berjanji kepada ummat akan saya bikit jalan, bikin irigasi, bikin got dan sebagainya, kenapa ? Karena untuk pembangunan fisik itu siapapun bisa, tapi untuk merobah pola pikir dan prilaku maka harus manusia baik yang hadir untuk memperbaiki, “ ujar Tgk Nas.

Tgk Nas melanjutkan, disaat kita berbicara politik Bireuen itu artinya kita berbicara tempat Bireuen dan juga rakyat bireuen. Artinya politik Bireuen itu bagaimana memperbaiki fisik Bireuen dan bagaimana memperbaik moral dan akhlak masyarakat Bireuen.

“Maka ini merupakan berjuangan besar, sehingga wajar disaat kita berbuat untuk agama berbagai macam cobaan dan fitnah terhantam.

Di akhir orasinya Tgk Nas berpesan, jika ada lawan politik yang bertutur kata fitnah untuk Tu Sop - dr Pur dan juga untuk beliau sendiri maka lebih baik diam.

“Do'akan saja semoga Allah mengampuni dosa mereka, “ ujar Tgk Nas kepada hadirin. [bahri/admin]

Orasi Politik di Peudada, Tusop: Kekuasaan Tanpa Agama Akan Hancur

Ibu-Ibu menyimak orasi politik Tusop di Gampong Meunasah Rabo, Peudada, Bireuen


Tusop.com, Bireuen – Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab yang akrab disapa Tusop Jeunieb menyampaikan orasi politiknya  di Gampong Meunasah Rabo Kecamatan Peudada Kabupaten Bireuen. Orasi yang terkait dengan keikutasertaan Tusop dalam Pilkada Bireuen ini dihadiri seribuan masyarakat gampong tersebut dan sekitarnya, Rabu malam (18/1).

Dalam orasi ini Tu Sop menyampaikan, bahwa kekuasaan tanpa agama akan hancur dan kacau balau. Begitu juga agama tanpa kekuasaan akan lemah dan tanpa penyelamat.
Menurut Tusop, disaat haus kekuasaan ada yang melarang ulama berpolitik. Tetapi disaat kepentingan untuk menggapai jabatan ulama juga yang dijadikan modal, yaitu dimana mereka mengesankan seolah dekat dengan ulama.

“Mereka percaya bahwa untuk menggapai kekuasaan butuh ulama, tapi dalam menjalankan kekuasaan tidak butuh ulama. "Ulama lage moto gileng, bak peget jalan urusan moto gileng tapi watee kaleuh jalan ka hana le izin untuk jak moto gileng ateuh jalan, payah peuek moto laen, " ujar  Tu Sop memberi contoh.


Efeknya, kata Tusop, nilai-nilai agama hari ini tidak terintegrasi dalam kekuasaan. Cara-cara Islam tidak masuk dalam sistem pemerintahan karena tidak ada kekuasaan.

Sebelumnya, di awal orasi Tusop mengatakan, mungkin banyak yang berfikir bahwa ketika Tu Sop mengikuti ajang Pilkada adalah hal baru. Memang hal baru, karena semenjak negeri ini lepas dari penjajahan belum ada agamawan yang bergerak untuk memimpin pemerintahan.

Tu Sop menjelaskan, harus kita sadari bahwa dunia pemerintahan hari ini sangat berbeda dengan gaya pemerintahan masa kesultanan Aceh dahulu dimana Sultan berfungsi untuk menjalankan arahan yang telah dikonsepkan oleh para Ulama.

Menurut Tusop, dulu ulama merancang konsep untuk dijalankan oleh Sultan, sehingga semangat sultan dalam menjalankan pemerentahan dalah semangat agama yang didasari menjalankan konsepsi yang disusun oleh para ulama.

“Lalu kita lihat hari ini, atas semangat apa pemimpin kita menjalankan pemerintahan ? Apakah semangat agama atau semangat cari lahan kerja dan rezki lewat pepolitikan. Karena itu tujuannya maka keluarlah ucapan ulama tidak boleh berpolitik, kerena politik itu kotor, sungguh ini merupakan bahasa pembodohan ummat, “ujar Tusop berapi-api.

Tu Sop juga mempertanyakan, jika pemikiran atau Undang-undang Belanda mampu dijadikan aturan untuk negeri ini, tapi kenapa isi Alquran tidak berlaku?, Jawabannya adalah karena kekuasaan tidak ada, kata Tusop lagi. [bahri/admin]

Selasa, 17 Januari 2017

Dihadapan Ribuan Jamaah Pengajian di Simpang Mamplam, Tusop: 'Matilah Kamu Sebelum Mati!'

Tusop memberi pengajian di Meunasah Mesjid Simpang Mamplam, Bireuen


          Tusop.com, Pengajian Tastafi dan Zikir Yadara yang diasuh Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab atau Tusop kembali digelar di Gampong Meunasah Masjid Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen. Pengajian berlangsung pada Selasa malam, (17/1).

          Pengajian ini dibagi dalam tiga sesi. Pada sesi pertama, Tu Sop menyampaikan materi pengajian isi dari kitab Majmu' Rasail karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Di sesi kedua, disediakan waktu untuk tanya jawab, baik untuk jama'ah yang hadir secara langsung, dan juga diberi kesempatan bertanya untuk pendengar radio Mutiara FM 104.8 MHz melalui sms yang dibacakan oleh mederator acara.

          Pada sesi ketiga, yaitu sesi terakhir diakhiri dengan bermunajat dan berzikir kepada Allah Swt yang dipimpin oleh Syaikh Khalili dan Syaikh Samsul Bahri.

          Dalam pengajian ini, dengan mengutip hadis Rasulullah Saw, Tu Sop mengajak para jama'ah untuk merenungi kematian. Tusop mengatakan, "Matilah Kamu Sebelum Mati!". Artinya, kata Tusop, jadikan sikap kita hidup didunia sebagaimana sikap orang yang telah mati. Sebab, orang yang sudah berada di alam kuburan sangat ingin kembali ke dunia, tapi bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk mencari rezki, melaiinkan hanya untuk mengumpulkan amal shaleh dan berjuang supaya menjadi manusia yang sebaik mungkin. 
 
Jamaah pengajian Tusop di Meunasah Mesjid Simpang Mamplam, Bireuen
          “Inilah sikap orang yang sudah di alam barzah. Maka kalau ini menjadi sikap dan prilaku kita, maka disitulah awal dari kebahagiaan kita hidup didunia, “ ujar Tusop di hadapan ribuan jama’ah.

          Selain itu, Tu Sop yang memotivasi para jama'ah dengan mensyarah isi kitab Majmu' Rasail, menyampapikan strategi untuk ‘mati sebelum mati’. Tusop mengatakan, ada empat (4) cara agar kita mampu untuk Mati sebelum mati.

          Strategi pertama, kendalikan Nafsu. Segala tawaran nafsu yang tidak menghasilkan pahala bahkan hanya sebagai lahan untuk mengumpulkan dosa, maka kendalikan dia. Sebab, itu semua sangat berbahaya bagi masa depan kita di dunia dan akhirat. 
 
          “Memang ada enaknya menuruti hawa nafsu. Tapi enaknya cuma sebentar, namun yang terjadi di masa depan adalah malapetaka, “ ujar Tusop lagi.

          Strategi yang kedua, kata Tusop menambahkan, matikan keinginnan yang berlebihan, yaitu keinginan yang tidak ada kepentingan untuk akhirat. Menurut Tusop, manyak manusia yang sedih dan galau hanya disebabkan oleh banyaknya keinginan. Memang watak manusia itu sangat ingin sesuatu yang tidak dimilikinya dan kurang menarik pada sesuatu yang sudah dimilikinya.

          "Hawa yang hana bak droe, yang itam hawa keu puteh, yang tuet hawa keupanyang, yang tumbon hawa keupijut". Intinya, ingin sesuatu yang tidak dimilikinya bahkan tidak mungkin untuk dimilili, maka karena itulah banyak manusia yang susah dan menderita. Pada hakikatnya, "tidak ada yang menyakiti dirimu selain dirimu sendiri", “ ujar Tusop panjang lebar.

          Strategi yang ketiga, kata Tusop melanjutkan, lawanlah Syaithan. Lawan dan musuhilah syyaithan dengan segala kekuatan lewat ilmu dan mujahadah kita. 

          “Harus kita sadari bahwa syaitan itu tidak pernah berniat baik untuk kita. Semua tawaran dan ajakan mereka hanya perencanaan mereka untuk menggagalkan dan menghancurkan masa depan kita baik dunia maupun akherat, “ tambah Tusop lagi.

          Sementara strategi terakhir, kata Tusop, lawanlah dunia. Sebab, menurut Tusop, dunia merupakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk akherat. ‘Dunia’ dengan segala tipu dayanya itu adalah musuh orang beriman. Banyak yang lupa akherat karena sangat menyintai dunia. Dunia ini merupakan penghambat kita untuk berbuat baik dan menegah kita untuk mengumpulkan modal akhirat.

          “Alangkah celaka jika hidup didunia hanya untuk memikirkan dunia sementara akhirat yang kekal abadi terlupakan, terbiarkan tanpa mempersiapkan bekal, “ papar Tusop. [bahri/admin]
Jamaah pengajian Tusop di Simpang Mamplam, Bireuen

Pengajian Tusop di Paya Aboe Peusangan: Manusia Bahagia Bila Lakukan Dua Hal

Tusop mengisi pengajian di Meunasah Paya Rabo


Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab menyampaikan materi pengajian Tastafi dan Zikir Yadara di Meunasah Paya Aboe, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Senin malam (16/1). Dalam pengajian ini Tusop membacakan kitab Majmu’ Rasail karya Imam al-Ghazali.

Dalam pengajian ini, Tusop menyampaikan bahwa manusia akan bahagia apabila mampu bersikap dua hal. Pertama, istiqamah pada kebaikan. Yang kedua husnul khuluk, yaitu baik akhlak.

Istiqamah dalam kebaikan dan baik akhlak sangat ditekankan dalam Islam, sebab
“Kalau kita bisa istiqamah dalam kebaikan dan memperbagus akhlak kita, maka pasti kita akan bahagia, “ ujar Tusop.

Pengajian Tastafi di Meunasah Paya Aboe dihadiri ratusan masyarakat desa tersebut dan sekitarnya. Sampai pengajian selesai masyarakat sangat antusias mendengar setiap untaian nasehat rohani yang disampaikan Tusop. [Bahri/admin]

Foto-Foto Pengajian di Paya Rabo




Minggu, 15 Januari 2017

Tusop Peringati Haul Sirul Mubtadin Bersama Puluhan Ribu Jama'ah

Bireuen - Puluhan ribu jama’ah menghadiri Haul (ulang tahun) ke dua majlis taklim Sirul Mubtadin cabang Bireuen di lapangan sepakbola kec. Jeunieb, Kab. Bireuen, Minggu (15/1). Sejak pagi hari, jama’ah yang datang dari seantaro Bireuen sudah mulai memutihi lapangan. Banyaknya jama’ah yang datang hingga meluber ke luar lapangan.

         Hadir dalam acara haul ini yaitu Tgk. H. Muhammad Yusuf  A. Wahab (Tusop) sebagai penasehat Sirul Mubtadin cabang Bireuen, Tgk.H. Usman Ali (Abu Kuta Krueng), Abu Ishak Lamkawe, Abati Kuta Krueng, Waled Munir Kiran dan sejumlah ulama lainnya. 


          Ketua panitia acara, Tgk Nasruddin Judon mengatakan, Haul kedua Majlis Sirul Mubtadin Bireuen dilaksanakan sekaligus dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. 

          Acara diawali dengan pembacaan ayat Suci Alquran, nasyid dan Shalawat, Zikir dan tausyiah oleh Tusop dan Abu Ishak Lamkawe, serta kemudian ditutup dengan pembacaan do’a oleh Abu Kuta Krueng. Jama’ah yang memakai pakaian serba putih tidak beranjak dari tempat duduk menyimak dengan seksama setiap tausiah yang disampaikan di atas panggung hingga acara selesai

          Ketua Sirul Mubtadin Bireuen, Tgk Sulaiman Yusuf dalam sambutannya mengatakan, hingga saat ini jama’ah Sirul Mubtadin di Kabupaten Bireuen yang telah mendapatkan kartu tanda anggota adalah sebanyak 21 ribu jama’ah. Sementara sembilan ribu lagi sedang dalam proses pendaftaran dan pembuatan kartu anggota.  Ketua Sirul Mubtadin pusat Aceh, Tgk Razali Manyak dalam sambutannya, mengatakan, di usianya yang ke tujuh, saat ini secara resmi terdapat 85 ribu lebih masyarata yang sudah bergabung dalam majlis ta’lim Sirul Mubtadin di seluruh Aceh dimana penambahan  anggota paling banyak dalam dua bulan terakhir adalah di Bireuen.



Di Haul Sirul Mubtadin Tusop Tegaskan Hinaan Adalah Keburukan bagi si Penghina



 
Tusop memberi tausyiah pada Haul Sirul Mubtadin. Haul juga dihadiri Abu Kuta Krueng dan Abu Ishak Lamkawe

TUSOP.com, Bireuen - Puluhan ribu jama’ah menghadiri Haul (ulang tahun) ke dua majlis taklim Sirul Mubtadin cabang Bireuen di lapangan sepakbola kec. Jeunieb, Kab. Bireuen, Minggu (15/1). Sejak pagi hari, jama’ah yang datang dari seantaro Bireuen sudah mulai memutihi lapangan. Banyaknya jama’ah yang datang hingga meluber ke luar lapangan.

          Hadir dalam acara haul ini yaitu Tgk. H. Muhammad Yusuf  A. Wahab (Tusop) sebagai penasehat Sirul Mubtadin cabang Bireuen, Tgk.H. Usman Ali (Abu Kuta Krueng), Abu Ishak Lamkawe, Abati Kuta Krueng, Waled Munir Kiran dan sejumlah ulama lainnya. 

          Ketua panitia acara, Tgk Nasruddin Judon mengatakan, Haul kedua Majlis Sirul Mubtadin Bireuen dilaksanakan sekaligus dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. 

          Acara diawali dengan pembacaan ayat Suci Alquran, nasyid dan Shalawat, Zikir dan tausyiah oleh Tusop dan Abu Ishak Lamkawe, serta kemudian ditutup dengan pembacaan do’a oleh Abu Kuta Krueng. Jama’ah yang memakai pakaian serba putih tidak beranjak dari tempat duduk menyimak dengan seksama setiap tausiah yang disampaikan di atas panggung hingga acara selesai.

          Ketua Sirul Mubtadin Bireuen, Tgk Sulaiman Yusuf dalam sambutannya mengatakan, hingga saat ini jama’ah Sirul Mubtadin di Kabupaten Bireuen yang telah mendapatkan kartu tanda anggota adalah sebanyak 21 ribu jama’ah. Sementara sembilan ribu lagi sedang dalam proses pendaftaran dan pembuatan kartu anggota.  Ketua Sirul Mubtadin pusat Aceh, Tgk Razali Manyak dalam sambutannya, mengatakan, di usianya yang ke tujuh, saat ini secara resmi terdapat 85 ribu lebih masyarata yang sudah bergabung dalam majlis ta’lim Sirul Mubtadin di seluruh Aceh dimana penambahan  anggota paling banyak dalam dua bulan terakhir adalah di Bireuen.

          Sementara itu, Tusop dalam tausyiah zikirnya menyampaikan pentingnya para jama’ah untuk senantiasa meluruskan niat serta memperbanyak zikir kepada Allah agar diampuni seluruh dosa-dosa. Tusop juga memotivasi para jama’ah bahwa hal yang paling membahagiakan bagi seorang muslim adalah tatkala kuburannya nanti menjadi kebun syurga baginya. Oleh sebab itu, Tusop juga menyeru kepada para jama’ah agar senantiasa sabar menghadapi setiap cobaan hidup di dunia berupa ujian dan hinaan.

          “Hinaan adalah keburukan bagi si penghina, bukan bagi yang dihinakan, “ ujar Tusop memotivasi jama’ah.

Rabu, 11 Januari 2017

Tu Sop: Anak Muda Harus Menjadi Agen Perbaikan

Bireuen, tusop.com - "Anak-anak muda harus menjadi agen perbaikan. Sebab jika anak muda diam, maka sepertiga kekuatan umat telah lumpuh, akhirnya ketimpangan demi ketimpangan akan terus menjadi tontonan".

Demikian pesan Tgk H. M. Yusuf Abdul Wahab yang biasa disapa Tu Sop dalam seminar Pendidikan Politik (Dikpol) Islam bertema "Membangun Politik Bireuen dalan Bingkai Peradaban Islam" yang berlangsung di Aula Hotel Matang Raya, Peusangan, Kamis, 12/1.

Lebih lanjut Tu Sop menjelaskan bahwa perbaikan cara pandang dan perilaku politik adalah pondasi untuk memperbaiki semua aspek kehidupan. Karena politik adalah instrumen yang menentukan baik buruknya kehidupan umat dalam berbangsa dan bernegara. Maka untuk ini, anak-anak muda, mahasiswa dan santri harus menjadi lokomotif perbaikan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Seminar ini turut menghadirkan pengamat politik Aceh yang juga dosen Universitas Malikusaleh (Unimal) Aceh Utara, DR. Amrizal J Prang.

Seminar ini diikuti oleh ratusan Mahasiswa dan aktivis dari sejumlah Universitas Almuslem, IAI Almuslen Aceh dan beberapa lembaga kampus lain. (Admin tusop.com)

Comments System

Disqus Shortname

Diberdayakan oleh Blogger.