Selasa, 07 Februari 2017

[Testimoni] Apa Kata Sejumlah Aktivis Aceh tentang Tu Sop?



Tu Sop Saat Menyampaikan Orasi Politik dalam Kampanye Akbar di Peusangan, 7/2/2017

Inspirasi Bagi Banyak Orang
 
Tu Sop Jeunieb adalah inspirasi  bagi banyak orang, terutama bagi saya pribadi.  Dimana orang baik dan berilmu pengetahuan mumpuni dan yang terpenting beliau sebagai ulama panutan ummat mau peduli dan terjun ke dunia yang menurut sebagian besar adalah kotor,yaitu dunia politik.

Ditengah masih kentalnya pemahaman sekuler yang memisahkan kekuasaan (pemerintahan)  dengan agama, Tu Sop muncul untuk menyakinkan kita akan pentingnya kehadiran nilai-nilai agama dalam kekuasaan. Tujuannya adalah untuk memperkuat yang baik dan memperbaiki yg kuat. “Ulama yang tidak peduli dengan politik, maka akan dipimpin oleh para politisi yang tidak peduli kepada ulama”

Tgk Fadhil Rahmi, Lc
Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh.



Sosok yang Bisa Menyatukan Ummat
Tgk H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab yang saya kenal bukan hanya sorang ulama, tapi juga seorang intelektual muslim yang cerdas yang berpikir modern, juru dakwah sekaligus pengusaha. Pemikiran beliau sangat sesuai dngan konteks kekinian,  selain paham tentang dayah, beliau juga paham tentang dunia kampus hingga birokrasi. 

Sejauh saya amati, beliau adalah seorang ulama dayah yang terbuka kepada semua pihak. Pemikiran beliau bisa menyatukan dan menjembatani antara kalangan dayah dgn kalangan kampus/ akademisi.  Hemat saya, hal inilah yang menyebabkan sosok beliau dikenal baik dan dakwahnya diterima banyak kalangan dari kalangan dayah/santri, pemuda, masyarakat umum hingga kalangan kampus/akademisi.

Pemahaman yang ditanamkan oleh beliau tidak terpaku pada pemikiran klasik, akan tetapi lebih modern dengan tetap belandaskan Islam berbadis dayah. Dapat di simpulkan sosok Tu Sop adalah seorang ulama yang intelek, dan intelek yang ulama.                     

Bahkan, beliau juga bisa dikatakan sebagai seorang motivator. Lisan beliau sangat tertata dengan rapi yang bisa menjadi tuntunan, motivasi bagi kita dan menyejukkan hati siapa saja.

Alimuddin Armia
Ketua Umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia ( PII ) Aceh Periode 2014-2016


Sulit Menemukan Ulama Seperti Tu Sop
Tu Sop adalah sosok yang patut kita apresiasi. Sulit sekali sekarang kita menemukan ulama yang berfikir konprehensif seperti Tu Sop. Beliau mau turun langsung ke dalam dunia politik yang selama ini oleh sebagian ulama dipandang tabu. Semestinya sifat ulama dan umara harus berkumpul pada setiap pemimpin dan ulama. Makanya kekuasaan harus dipegang oleh orang baik dalam arti punya kesadaran dan ketrampilan beragama.

Basri Effendi, SH
Ketua Pemuda Dewan Dakwah Aceh.


Intelektualitas Tu Sop Tidak Diragukan Lagi

Siapa yang tidak mengenal Tgk H Muhammad Yusuf Abdul Wahab, anak didiknya memanggilnya 'Ayah',  kebanyakan yang lain memanggilnya Tu Sop.  Ulama yang dikenal santun dan bersahaja ini juga dikenal sebagai intelektual dari dayah. Walaupun beliau tidak menempuh pendidikan formal sampai ke jenjang starta dua atau tiga, namun tingkat intelektualitasnya tidak diragukan lagi.

Memimpin sebuah lembaga pendidikan adalah profesi yang tidak bisa dipisahkan dengannya, sepengentahuan saya beliau sangat peduli untuk perkembangan lembaga pendidikan yang beliau pimpin, tidak hanya sebatas dayah modern namun lebih dari itu.
Di lain kesempatan beliau juga kerap diundang untuk menjadi pemateri atau penceramah dari berbagai instansi pemerintah, kampus, dan organisasi kemasyarakatan lainnya. 

Bagi saya Tu Sop adalah seorang intelektual dayah yang moderat, beliau adalah ulama juga umara, tidak kaku, diterima dari semua kalangan dan tidak berlebihan kalau beliau dinobatkan sebagai duta pemersatu umat di Aceh.

Shafwan Bendadeh
Sekretaris Umum DPW BKPRMI Aceh
 

Senin, 06 Februari 2017

Biografi dr Pur, Sosok Dokter Yang Profesional dan Idealis


 
Bagi saya, mendorong perubahan yang lebih baik bagi masyarakat Bireuen adalah sebuah panggilan nurani, walaupun harus mundur dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), meninggalkan semua kenyamanan dan pendapatan yang jauh lebih besar saya peroleh sebagai seorang dokter spesialis adalah konsekuensi yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan peluang perubahan yang insya Allah mampu saya lakukan jika berada dalam sistem

*Purnama Setia Budi*


Dokter Yang Profesional dan Idealis

            Tusop.com | Sebagai seorang dokter, dr. Purnama Setia Budi, Sp OG sedikit berbeda dari kesan dokter pada umumnya. Hal ini dapat dilihat dari kesehariannya, baik selama menjalani profesinya selaku dokter, maupun saat bersosialisasi dengan beragam aktifitasyang ditekuninya. Kesan tersebut tersirat dari sejumlah pengakuan para sahabat dan pasien yang pernah berhubungan dengan beliau. Selain dianggap ramah dan profesional, dr. Purnama juga dinilai sangat peduli dengan masalah-masalah sosial dan isu-isu kesehatan dan tata pemerintahan.
           

            Selama menjalankan tugasnya di Bireuen, dr. Purnama kerap terlibatdalam beragam kegiatan sosial seperti kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga tidak mampu, sunatan gratis bagi anak yatim dan kurang mampu, mendukung aktifitas para relawankemanusiaan dan taman baca anak, sampai mengisi sejumlah acara sosialisasi kesehatan bagi para ibu-ibu. Hal ini tidak saja ditekuni selama beliau menjadi dokter, bahkan saat menyandang status sebagai mahasiswa kedokteran pun dr Purnama telah dikenal sebagai sosok aktivis yang begitu peduli dengan isu-isu kesehatan dan kemanusiaan.


            Kepedulian terhadap persoalan dan nilai-nilai kemanusian membuatnya dekat dan sering mengisi ruang-ruang diskusi bersama para aktivis sosial. Hal ini yang kemudian menguatkan tekatnya untuk masuk ke dalam sistem, untuk terlibat langsung merubah sistem birokrasi dan program sehingga pembangunan di Bireuen dapat lebih berpihak pada orang-orang kurang mampu dan terpinggirkan dari pembangunan.


            Pilihan ini tentu tidak mudah, di satu sisi ada desakan nurani untuk terjun langsung ke dalam sistem guna mendorong perubahan yang lebih baik, tapi disisi lainnya harus berkorban dengan meninggalkan semua kenyamanan yang telah dinikmatinya sebagai seorang dokter. Pilihan-pilihan ini tentu menyulitkan bagi orang lain, akan tetapi berbeda bagi dr. Purnama.


            “Bagi saya, mendorong perubahan yang lebih baik bagi masyarakat Bireuen adalah sebuah panggilan nurani, walaupun harus mundur dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), meninggalkan semua kenyamanan dan pendapatan yang jauh lebih besar saya peroleh sebagai seorang dokter spesialis adalah konsekuensi yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan peluang perubahan yang mampu dilakukannya jika berada dalam sistem, “ ujar dr Pur kepada redaksi Arus Kebaikan via Whatsapp, Senin, (6/2/2017).


            Keyakinan tersebut semakin tumbuh dan kuat ketika beliau bertemu dengan sosok karismatik Tgk. H.M Yusuf Abdul Wahab (Ayahanda Tu Sop), kesamaan pandangan politik dan visi pembangunan yang beliau temukan pada ayahanda Tu Sop makin memperteguh tekat dan keyakinannya untuk terjun ke politik. Alhasil, Tu Sop dan dr Pur merupakan sebuah kombinasi yang langka ditemukan pada pemimpin-pemimpin yang telah ada selama ini
           
            “Bagi saya, sosok ayahanda Tu Sop bukan sekedar seorang Ulama, ayahanda Tu Sop adalah perpaduan antara intelektual dan ulama, “ kata dr Purnama.


*Anak Mantan Anggota DPRK Aceh Utara*
            Lahir di Gampông Jawa Lama, Lhokseumawe pada 5 Maret 1978, sebagai anak bungsu dari enam bersaudara yang berasal dari pasangan sederhana. Bapak saya Alm. M Nurdin, kelahiran desa geudong geudong, Kota Juang, adalah seorang mantan prajurit RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), kesatuan elit yang sekarang disebut Kopassus.

            “Sedangkan ibu saya Alm. Maimunah Ibrahim, kelahiran Peudada, adalah seorang guru di Sekolah Menengah Atas, dan sempat pula menjadi anggota DPRK Aceh Utara dua periode (1994-2004) mewakili DAPIL Peudada saat Bireuen masih bersama kabupaten Aceh Utara. Dari kedua orang tua, saya memperoleh didikan ilmu-ilmu agama dan kedisiplinan yang kuat, sehingga membuat saya berhasil menyelesaikan pendidikan dokter dan menjadi pelayan masyarakat di bidang kesehatan sampai saat ini, “ ujar dr Pur.

            dr Pur mengatakan, ia merasa cukup beruntung mendapatkan pendidikan yang cukup sejak masa kecil, dikarenakan memiliki orang tua yang sangat memperhatikan pendidikan. Dimulai dari pendidikan dasar di SD Negeri 2 Lhokseumawe, dilanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Lhokseumawe dan kemudian SMA Negeri 1 Lhokseumawe.

            “Praktis masa kecil saya lalui di kota yang terkenal dengan julukan “Petrodollar” ini, yang saat itu merupakan ibukota bersama kabupaten Bireuen dan Aceh Utara sebelum dimekarkan. Tak berbeda jauh dari anak-anak lain, dimasanya saya juga aktif terlibat dalam kepanduan Pramuka dan aktif terlibat dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai ketua.

            dr Pur mengatakan, ia bersyukur Alhamdulillah karena setamat dari SMA ia mendapatkan undangan untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK-USU) Medan.

            “Selama perkuliahan pula saya melibatkan diri aktif di sejumlah organisasi, diantaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) FK-USU, PEMA USU, ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia), KMPAN ( Komite Mahasiswa Pemuda Aceh Nusantara), IPTR (Ikatan Pemuda Tanah Rencong) dan juga Sekjend di Kelompok Aspirasi Mahasiswa FK-USU. Selama pendidikan di medan saya tinggal di Asrama mahasiswa Aceh dan pesantren Miftahussalam di bawah pimpinan Abu Syihabuddin Syah atau yang sering dikenal dengan Abu keumala. Dan selesai pendidikan kedokteran pada 2004, saya pun memilih pulang mengabdi di kabupaten Bireuen, kampung halaman saya, “ ujar dr Pur bercerita.

Memulai kehidupan di Bireuen, selain menjadi dokter di RSUD dr. Fauziah, dr Pur juga
pernah menjadi pengurus KNPI Kabupaten Bireuen pada (2007-2010), dan ikut terlibat dalam
team relawan kemanusiaan bencana tsunami pada 2004 lalu.

            “Pada tahun 2007, saya kemudian melanjutkan pendidikan spesialis Obstetri danGinekologi di Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang. Selesai pendidikan pada 2012, saya langsung kembali bertugas RSUD dr. Fauziah sebagai ahli kandungan sampai sekarang, “ ujar dr Pur. [bahri/arus kebaiakan]

Debat Kandidat, Tu Sop Tawarkan Politik Paradigma Baru



         
Tusop.com – Beberapa waktu lalu, digelar debat Calon Bupati – Wakil Bupati Bireuen oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Bireuen, (3/1/2017). Dalam debat kandidat ini, Tu Sop didampingi dr Pur mengatakan, kami hadir mencalonkan diri dalam Pilkada Bireuen dimana kita sadar bahwa kita hidup di era globalisasi dimana kita digilas oleh kapitalisme dan neo kolonialisme modern, yang kuat akan menggilas yang lemah, yg cepat akan menggilas yang lambat.

          Oleh karena itu, kata Tu Sop, kemajuan dan kekuatan sebuah bangsa sangat ditentukan dan yang paling bertanggung jawab nomor satu adalah lembaga politik dan pemerintahan.
          "Kami hadir mencalonkan diri dalam Pilkada Bireuen karena kita sadar bahwa kita hidup di era globalisasi. Zaman dimana kita digilas oleh kapitalisme dan neo-kolonialisme modern. Yang kuat akan menggilas yang lemah, yang cepat akan menggilas yang lambat. Dan oleh karena itu, kami sadar bahwa kemajuan dan kekuatan sebuah bangsa sangat ditentukan dan yang paling bertanggung jawab adalah lembaga politik dan pemerintahan. Dan untuk tujuan inilah kami hadir, “ tegas Tu Sop.

          Maka oleh karena itu, sambung Tu Sop lagi, memperbaiki politik dan pemerintahan kita, maka secara visi misi kita perlu lakukan inovasi-inovasi dalam percapatan dalam penanganan semua persoalan, kalah cepat dalam menangani semua persoalan akan cepat kalah dalam persaingan global.

          “Kami akan memperbaiki kultur birokrasi dan kinerja PNS. Mengentaskan kemiskinan dan kesenangan sosial. Membuka lepangan kerja seluas-luasnya untuk memberi lapangan kerja bagi warga Bireuen, serta mempercepat pembangunan Infrstruktur ekonomi untuk meningkatkan produksi ekonomi rakyat dan negara.

          Namun di balik itu, kata Tu Sop lagi, hal yang paling utama adalah mengatasi problem dekadensi moral. Sebab kata Tu Sop, kita tahu konsep dan perencanaan sebaik apapun akan gagal jika idak mampu mengintegrasikan nilai moral Islam dalam semua aspek kehidupan.

          Sementara saat diberikan waktu untuk bertanya saat sesi tanya jawab, Tu Sop mengatakan, sebenarnya ia  tidak ingin bertanya untuk menghindari ketersinggungan teman-teman. Sebab, menurut Tu Sop, kalau pertanyaan sulit akan menjatuhkan, tapi kalau mudah bisa beliau jawab sendiri.

          “Tapi begini saja, bagaimana untuk Bireuen ke depan. Siapapun yang akan menang kita siap bergabung dan bersatu tanpa ada dendam atau terluka di antara kita “ ujar Tu Sop lagi.

          Sementara itu, saat pasangan no urut 5 bertanya tentang budaya politik yang sehat kepada Tu Sop, Tus Sop menjawab, budaya politik yang bagus itu disaat kita bisa bisa menghancurkan permusuhan tanpa ada musuh musuh yang hancur. Menghancurkan perselisihan tanpa ada kehancuran bagi yang berselisih, mampu menjadikan musuh menjadi teman.

          “Kita sebenarnya adalah umat Nabi Muhammad Saw yang fungsinya adalah akhlak dan moral. Jangan sampai kita karena perpolitikan menghancurkan kesatuan dan kekompakan kita. Kita bersaing bukan bermusuhan. Kemenangan sebenarnya adalah ketika kita mampu memenangkan rakyat kita dalam persiangan global, bukan saat mampu memenangkan diri kita hanya sampai kepada jabatan, sementara nasib rakyat masih terlunta-lunta, “ ujar Tu Sop.

          Oleh sebab itu, di akhir kesempatan Tu Sop mengajak semuanya untuk berpolitik dalam paradigma baru yang tidak bebas nilai. Yaitu politik dimana Islam harus terintegrasi dalam setiap perilaku dan sikap, dalam setiap waktu dan semua aspek kehidupan.[bahri/admin]

REVOLUSI AKHLAK


           “Era kebangkitan bangsa ini akan dimulai ketika akhlak terpuji telah meliputi dunia politik, sistem perekonomian, pendidikan, sosial budaya dan sebagainya. Oleh sebab itu, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa revolusi akhlak adalah jalan menuju kebangkitan dan kejayaan. Institusi pendidikan, organisasi, para akademisi, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, santri, mahasiswa, politisi dan segenap elemen bangsa lainnya mesti terlibat secara massif dalam gerakan dan revolusi akhlak”   

Oleh Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab 

Ketua 1 Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA).
Ketua PCNU dan Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, Bireuen.

          Negeri ini rusak bukanlah karena tidak adanya orang pandai. Orang-orang yang pandai di berbagai latar belakang keilmuan sangat banyak. Pertanyaan, kenapa negeri ini rusak, dan bahkan terus terpuruk dari waktu ke waktu? Dimanakah peran kaum intelektual untuk membendung realitas terjadinya kerusakan dalam berbagai tatanan kehidupan bangsa Indonesia dan juga Aceh dewasa ini? Sesungguhnya problem bangsa ini bukanlah pada faktor kecerdasan – intelektual, persoalan kita adalah kerusakan akhlak yang hari ini menjadi kekuatan yang dominan yang berbahaya dimana ia mengalahkan akhlak yang mulia. 

Maka tidak aneh ketika kita menyaksikan orang-orang yang kuat mengeksploitasi yang lemah, yang pandai mengeksploitasi masyarakat awam. Tidaklah cukup bagi bangsa ini meraih kemajuan sekedar berbekal kecerdasan, kepakaran dan ilmu pengetahuan dan teknologi – jika tanpa akhlak yang terpuji.

          Dalam bidang ekonomi, kerusakan akhlak menyebabkan terjadinya praktek kapiatalistik yang merubah wajah kaum cerdik cendekia menjadi predator bagi yang lain. Bagaimana kita memahami jika seorang yang paham ekonomi namun justru menciptakan sistem ekonomi ribawi yang menjerat leher masyarakat bawah? Inilah problem akhlak tercela. Dalam bidang politik, kerusakan akhlak menyebabkan politik hanya untuk memperkaya diri dan kelompok yang pada intinya hanya  menjadi sekedar alat eksploitasi masyarakat miskin. 

Dalam bidang pendidikan, kerusakan akhlak menyebabkan orientasi pendidikan berubah menjadi sekedar untuk kepentingan materialisme. Efeknya, pendidikan gagal melahirkan produk yang memiliki karakteristik Islami yang mampu menjawab tantangan zaman. Dan dalam bidang hukum juga demikian, ketika akhlak rusak maka hukum menjadi sebuah permainan yang jauh dari keadilan, karena telah dimanfaatkan untuk mengeksploitasi yang lain, menghancurkan orang-orang yang tidak disenangi. 

          Di balik itu, dekadensi moral seperti gaya hidup KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) saat ini telah membuat kerusakan di berbagai sendi pembangunan negara. Begitu juga, narkoba, perjudian, pergaulan bebas, pornografi dan pornoaksi sangat cukup menjadi penyebab kehancuran sebuah bangsa. Bahkan di level Aceh, hari ini kita mengalami kecemasan yang sangat besar ketika kita memperhatikan generasi muda kita yang tidak sedikit terjebak dalam dunia hitam Narkoba. Apa jadinya negeri ini jika kita mewarisakan generasi yang lemah dan rusak?

          Dalam kondisi yang memprihatinkan ini, tepatlah ketika Rasulullah Saw di masa hidupnya mempertegas fungsi kerasulan beliau, “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah Swt adalah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak manusia”. Misi inilah yang disebut sebagai Rahmatan lil ‘alamin. Apakah kecil tugas pembinaan akhlak? Tentu saja tidak. Sebab, realitasnya kerusakan akhlak menyebabkan kerusakan di berbagai sendi kehidupan. Berkata Syauqy Bey dalam sya’irnya, “Hidup dan bangunnya suatu bangsa tergantung pada akhlaknya, jika mereka tidak lagi menjunjung tingi norma-norma akhlaqul karimah, maka bangsa itu akan musnah bersamaan dengan keruntuhan akhlaknya”.

          Ketika akhlak runtuh, maka yang akan datang selanjutnya adalah kehancuran. Oleh sebab itu, melihat kembali pentingnya pembangunan berbasis akhlak adalah sebuah keniscayaan, keharusan dan bahkan juga kewajiban yang mendesak. Maka jawaban dari semua ini adalah “Revolusi Akhlak”. 

          Sungguh, kita tidak punya waktu lebih banyak lagi selain melakukan gerakan besar mencegah dekadensi moral dengan gerakan revolusi akhlak, sebuah gerakan mendasar yang harus dilakukan secara massif. Revolusi akhlak harus dilakukan dengan melibatkan seluruh sarana dan prasarana, memaksimalkan seluruh sumber daya manusia dan dengan waktu yang lebih ekstra. Sebab, jangkauan perbaikan akhlak ini sangat luas, meliputi seluruh tatanan kehidupan. Aspek sosial budaya, dunia perekonomian dan pasar, politik, pendidikan, keamanan dan sebagainya, semuanya membutuhkan sentuhan revolusi akhlak.

          Jangan lagi kita mendengar tugas perbaikan akhlak hanya dibebankan pada satu kelompok, dan bahwa akhlak terpuji hanya harus dimiliki oleh sekelompok santri. Kita membutuhkan revolusi akhlak yang meliputi seluruh status sosial dan strata di masyarakat, dari yang miskin sampai yang kaya, yang tidak berilmu sampai yang berilmu, yang tidak berpendidikan sampai yang berpendidikan hingga seterusnya.

          Kita betul-betul harus berjuang memancarkan cahaya akhlak Islam ke setiap sudut wilayah Aceh dan negeri ini. Pancaran sinar akhlak harus menyentuh hingga ke setiap pribadi manusia yang menghuni bumi Iskandar Muda ini. Kita harus memastikan bahwa masyarakat kita dalam status sosial manapun harus memiliki akhlak yang mulia, seperti malu, baik hati, jujur, sedikit bicara, banyak bekerja, meninggalkan segala hal yang tidak penting, berbakti kepada orang tua, silaturahim, sabar, bersyukur, lembut, dan pemaaf. Dan kita juga harus memastikan tidak ada lagi sifat-sifat buruk dalam diri kita dan masyarakat kita serta bangsa ini. Tidak ada lagi sifat pendendam, suka memfitnah, buruk sangka, mengumpat, mencaci maki, memutus tali silaturrahmi.
         
          Sesungguhnya akhlak terpuji yang dimiliki oleh rakyatnya niscaya akan menjadi modal besar sebuah bangsa untuk meraih kemajuan dan kebangkitan. Ketika akhlak terpuji telah menjadi gaya hidup sebuah bangsa, maka pastilah bangsa itu akan maju, berkembang dan memiliki citarasa peradaban. Apalah artinya jika ilmu pengetahuan maju, tapi tidak punya moral? Apa jadinya jika ekonomi kita maju, namun kita terjerat dalam hedonisme duniawi, dimana perintah Allah justru ditinggalkan?
         
          Namun demikian, revolusi akhlak bukan berarti akan meninggalkan cita-cita kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, sosial budaya dan pendidikan. Akhlak terpuji akan mengawal kemajuan tersebut agar ia selaras dengan harapan Islam. Sebab, kita bukan hanya harus sukses di dunia, namun juga harus sukses di akhirat sekaligus. Tidak ada artinya sukses dunia namun gagal di akhirat. Sebab, akhirat adalah kehidupan abadi, sementara dunia adalah kehidupan sementara. Begitu juga, alangkah lebih baik jika di dunia kita sukses, dan di akhirat juga sukses. Itulah harapan Islam kepada kita.
         
          Orang yang memiliki akhlak yang bagus akan selalu terdorong untuk berbuat baik antar sesama. Sebab dalam doktrin akhlak, seseorang dituntut untuk istiqamah dalam prinsip-prinsip kebajikan walaupun kepada orang yang bersikap baik terhadap dirinya. Dan ini akan menjadi magnet yang dapat menarik keridhaan Allah swt sekaligus simpati orang-orang yang berinteraksi dengannya.
         
          Saat Rasulullah saw ditanyai oleh sahabatnya tentang pengertian akhlak, beliau mendiskripsikan bahwa akhlak itu adalah memberi kepada orang yang kikir kepada kita, menyanyangi orang yang membenci kita, bersilaturrahmi dengan orang yang memutuskan silaturrahmi dengan kita. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh para sahabat Rasul hingga mereka menjadi orang-orang besar. Bahkan namanya dikenang hingga sekarang.
          Orang yang tidak berakhlak cenderung tidak disenangi oleh siapapun. Tidak disenangi oleh Allah Saw dan Rasul-Nya, juga cendrung dijauhi oleh manusia. Hal ini dapat diukur dari diri kita sendiri. Bagaimana kita tidak menyenangi orang yang berkepribadian buruk, maka demikian pula orang tidak menyenangi kita saat kita tidak berakhlak.
         
          Maka mari bayangkan jika akhlak mulia telah dimiliki oleh berbagai komponen bangsa ini. Pastilah kita akan keluar dari segenap problematika kehidupan yang mendera bangsa kini. Era kebangkitan bangsa ini akan dimulai ketika akhlak terpuji telah meliputi dunia politik, sistem perekonomian, pendidikan, sosial budaya dan sebagainya. Oleh sebab itu, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa revolusi akhlak adalah jalan menuju kebangkitan dan kejayaan. 

Institusi pendidikan, organisasi, para akademisi, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, santri, mahasiswa, politisi dan segenap elemen bangsa lainnya mesti terlibat secara massif dalam gerakan dan revolusi akhlak.  Sungguh, alangkah indahnya jika perjalanan hidup ini menjadi perjalanan ke syurga, dan saat itulah hasanah fiddunya dan akhirat bisa tercapai. Hal itu tidak akan terjadi tanpa mengintegrasikan akhlak dalam semua aspek kehidupan. Wallahu a’lam bishshawab.

Comments System

Disqus Shortname

Diberdayakan oleh Blogger.