Jumat, 18 Agustus 2017

Kaya Bukan Nista, Miskin Tak Hina

Tusop.com - Kaya dan miskin bukan soal. Sebab kaya maupun miskin tidak menjadi ukuran hina dan mulia seorang hamba dimata sang penciptanya, Allah swt. Ketakwaan-lah yang mentukan segalanya. Sebab Allah telah menegaskan, semulia-mulia manusia disisi Allah adalah yang paling bertakwa"

Kaya dan miskin adalah sunnatullah. Sudah menjadi sunnah,  Allah swt menciptakan hamba-Nya berbeda-beda. Sebagiannya Allah karuniai berlimpah harta benda,  sementara yang lain Allah batasi rizkinya dan hidup serba sederhana. Keduanya itu; miskin maupun kaya adalah rahmat yang sama-sama Allah berikan sebagai modal bagi manusia untuk menggapai derajat takwa.

Kaya bukan nista. Tiada kenistaan pada gelimang harta yang dilimpahkan Allah bagi hamba-Nya. Miskin juga tak hina. Tiada kehinaan pada kepapaan yang juga merupakan bagian dari takdir Allah bagi hamba-Nya. Tetapi yang menggores nista dan hina adalah kealpaan dalam menyikapi dan memanfaatkan keduanya sebagai sarana untuk kebaikan.

Kaya dan miskin selama dijadikan sebagai jalan menempuh takwa adalah kemuliaan yang tak terhingga. Kaya yang dibarengi dengan syukur adalah jalan takwa. Dan miskin yang disikapi dengan sabar juga jalan menuju takwa.

Yang terpenting, istiqamahlah pada jalan takwa, niscaya bagaimanapun kondisimu tetap akan mengantarkanmu ke maqam kemulian di sisi Rabb pencipta alam.

Senin, 14 Agustus 2017

Hawa Nafsu; Menaklukkan atau Ditaklukkan

Tu Sop bersama sejumlah tokoh pendidikan saat mengisi seminar pendidikan
di aula UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, 2017
Tusop.com | Seorang hukama’ fenomenal, Lukmanul Hakim sering kali mengkhawatirkan ketegaran anaknya menghadapi tantangan-tantangan berat dalam mengarungi kehidupan dunia menuju negeri pembalasan, akhirat. Kepada anaknya beliau kerap mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini bagaikan lautan ganas yang bergelombang. Gulungan ombaknya telah menelan begitu banyak orang-orang yang mengarunginya.

“Aku takut, anakku. Aku takut engkau akan ikut binasa seperti mereka yang telah binasa” ungkap Lukmanul Hakim pada anaknya.

Kekhawatiran seorang Lukmanul Hakim ini tentu didasari oleh dalamnya kesadaran beliau bahwa tantangan untuk menjadikan kehidupan dunia sebagai tempat membangun akhirat yang menyenangkan tidaklah ringan. Setiap ayunan langkah akan terganjal dengan berbagai ganjalan berat. Salah satu ganjalan berat itu adalah hawa nafsu dengan segala pengaruh jahatnya.

Secara fitrah, hawa nafsu pada manusia tercipta sebagai pemberi dorongan bagi aktivitas kehidupan, ibarat mesin pada kendaraan. Akibat dari pengaruh yang dihasilakan hawa nafsu ini, manusia termotivasi dan semangat untuk melakukan serangkaian aktivitas di dalam kehidupannya. Namun hal yang harus menjadi catatan, dorongan yang diberikan hawa nafsu multi-orientasi. Kadang bermanfaat bagi kehidupan, kadang justru akan menghancurkan nilai-nilai kehidupan itu sendiri. Tergantung sejauh mana ‘khittah’ kecendrungan hawa nafsu pada kejahatan (nafsu ammarah) diberikan ruang untuk berkembang.

Secara khittah, hawa nafsu memang tercipta dengan memiliki kecendrungan yang lebih dominan kepada kejahatan. Namun kecendrungan ini tidaklah permanen. Kecendrungan ini dapat dinetralisir dengan melakukan upaya-upaya mujahadah dan riyadhah; melawan dan tidak menuruti dorongan jahat hawa nafsu. Mujahadah dan riyadhah yang dilakukan secara konsisten dan kontinyu pada akhirnya akan membuat hawa nafsu takluk dibawah kendali akal dan ilmu. Saat hawa nafsu sudah berada dibawah kendali akal dan ilmu, maka ia akan lebih dominan memberikan dorongan kebajikan ketimbang kejahatan.

Celakanya, apabila khittah kecendrungan buruk hawa nafsu terus dituruti tanpa ada upaya perlawanan (mujahadah), maka kecendrungan buruk ini akan semakin menjadi-jadi hingga akahirnya manusia akan berada dibawah kendali hawa nafsu. Tak pelak, hawa nafsu akan menggiring manusia tersebut dalam kerugian di dunia dan penderitaan di akhirat.

Akhirnya, untuk selamat di dunia, hawa nafsu harus ditaklukkan untuk kemudian diposisikan dibawah kendali akal dan ilmu. Tiada pilihan lain selain menaklukkannya. Sebab pilihan kita cuma dua; menaklukkan (hawa nafsu) dan selamat di akhirat atau ditaklukkan (oleh hawa nafsu) dan akhirnya binasa bersama mereka yang binasa. (Admin)

Sabtu, 12 Agustus 2017

Orasi di Masjid Raya Baiturrahman, Tusop Ajak Masyarakat Aceh Bantu Palestina

Banda Aceh – Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita bersama – sama ikut berjuang sesuai kemampuan masing – masing dalam mendukung saudara kita yang sedang mengalami penindasan di bumi Palestina. Untuk itu sudah sepatutnya muslim di Indonesia khususnya Aceh untuk mendukung perjuangan saudara seiman kita serta mengecam penjajah zionis Israel.

Hal tersebut disampaikan ulama muda Aceh Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tusop) saat menyampaikan orasi pada Tabligh Akbar Aceh untuk Peduli Palestina, Minggu (7/8/2017) di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Tu Sop mengatakan bahwa umat Islam harus bersatu padu, jangan menjadikan predikat muslim yang ada pada diri orang Islam menjadi beban, karena muslim itu bersaudara, luka mereka juga luka muslim lainnya.

“Saya mengibaratkan orang yang terbebani itu seperti orang yang di berikan sepeda motor namun tidak tahu fungsi dan kegunaan kenderaan tersebut. Padahal kalau kita tahu maka kita tinggal hidupkan lalu berangkat, tapi bagi yang tidak tahu kegunaannya pasti berfikir barang ini saya tarik atau saya panggul di bahu,” ujarnya.

Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb Kabupaten Bireuen ini juga mengingatkan bahwa tragedi yang terjadi di Palestina bukan hanya keprihatinan muslim saja, namun dari sisi kemanusiaan sangat penting untuk diberikan bantuan.

“Sebagai manusia saja sudah kewajiban untuk membantu mereka. Apalagi sebagai pribadi muslim,” ujar Tu Sop dalam orasinya.

Acara tablig Aceh untuk Palestina yang digelar di Masjid Raya Baiturrahman (MRB), Banda Aceh, Minggu (6/8/2017) ini dibuka oleh dibuka Wakil Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT karena Gubernur Aceh, drh Irwandi Yusuf MSc sedang berada di Moskow dalam rangka kunjungan kerja. 

Selain diikuti ribuan masyarakat dari berbagai elemen acara tablig Akbar ini juga dihadiri sejumlah Tokoh dan ulama Aceh diantaranya Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA, Wakil Ketua Majlis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk H Faisal Ali, Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman, Walikota Banda Aceh Aminullah Usman, Rafly Kande,dan istri Gubernur Aceh Ibu Darwati A Gani. Selanjutnya turut hadir sejumlah kepala SKPA, anggota DPRA, serta sejumlah tokoh penting lainnya.

Walau sempat turun hujan rintik namun acara yang dimulai usai sholat Subuh tersebut diikuti dengan penuh antusiasme dari para jamaah dan peserta tablig. Dari amatan aceHTrend sejumlah santri dan santriwati dari berbagai dayah di Aceh berbaur dengan masyarakat yang berpakaian dominan putih dan memakai ikat kepala serta membawa bendera Palestina.[]

Sumber: Aceh Trend


Diam Saat Umat Islam Dibantai, Ulama Aceh: Tanyakan Iman ke Diri Masing-masing






Ulama Aceh M Tgk H. M. Yusuf  A Wahab mengaku tak dapat menyembunyikan rasa haru. Hatinya sangat tersentuh menyaksikan kehadiran masyarakat dalam aksi solidaritas Dari Aceh untuk Palestina di Masjid Raya Baiturrahman, Ahad, 6 Agustus 2017.

“Anda bangun di saat orang lain tidur. Anda bergerak di saat orang lain diam. Semoga Allah membalasnya,” kata Tgk H. M. Yusuf .

Menurut Tgk H. M. Yusuf , seorang yang beriman tidak akan mengingkari keberadaan saudaranya, muslim yang lain. Sebagai manusia yang dilahirkan jauh dari Nabi Muhammad saw, banyak tantangan yang harus dihadapi.

“Kita hidup di zaman generasi muslim yg tidak sepakat dengan Islam. Bahkan, sebagian menjadi bagian dari musuh Islam dan menghancurkan Islam,” kata Tgk H. M. Yusuf . Di masa kehidupan Muhammad saw, umat Islam bersatu tanpa sekat kesukuan.

Dan kini, musuh menghancurkan Islam melalui pola pikir kita. Mereka merusak muslim dengan membesar-besarkan perbedaan. Peristiwa yang terjadi di Palestina, kata Tgk H. M. Yusuf , harusnya menjadi iktibar; pembelajaran yang sangat berharga.

Tgk H. M. Yusuf  juga mengingatkan bahwa di masa penjajahan Belanda, musuh yang ditakuti adalah muslim di Sumatera. Sama seperti Spanyol saat berhadapan dengan muslim di Moro, Filipina.

Palestina, kata Tgk H. M. Yusuf , tengah dizalimi. Masjidnya dirampas. Pertanyaan yang harusnya ditanyakan ke diri masing-masing adalah, “apakah kita hanya diam? Ke mana kecintaan kita kepada sesama umat Islam? Ke mana iman kita? Ke mana Islam kita? Apakah kita melahirkan anak untuk dijajah?”

Muslim yang diam menyaksikan kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina pantas mempertanyakan kepada dirinya sendiri kadar keimanannya. Mereka yang diam, kata Tgk H. M. Yusuf , memadamkan semangat Islam
 
“Jangankan sebagai muslim, sebagai manusia saja kalau kita lihat di Palestina anak-anak ditembak dan dibunuh kita harus bangkit.”

Tgk H. M. Yusuf  juga meminta masyarakat Islam memiliki rencana sendiri. Dia juga mengingatkan agar muslim tidak dicap sebagai momok.

“Mari didik anak-anak kita menjadi pejuang Islam. Kita harus kembali mengikuti kecerdasan pendahulu kita, menjadi bangsa berpengaruh dan mewarnai dunia. Bukan sebaliknya,” kata Tgk H. M. Yusuf .

Membela orang terzalimi itu bagian orang Islam. Hal itu tak cukup hanya berzikir di masjid. Tgk H. M. Yusuf  mengingatkan umat Islam untuk memperkuatkan Islam dan ekonomi Islam. “Kita harus mempersiapkan diri, jangan sampai kita menjadi mangsa bagi negara lain,”

Tausiyah ulama Aceh ini ditutup dengan pembacaan Syair Palestine oleh budayawan asal Aceh, Rafly Kande.

 Sumber: KBA One

Rabu, 02 Agustus 2017

Politik Yang Saya Jalani dan Hayati (Bagian 2)

(Catatan Pemikiran Politik Tgk H. M. Yusuf Abdul Wahab/Tu Sop)

Tgk H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab / Tu Sop

Politik Sebagai Gelanggang Perjuangan

Tusop.com - Dalam persepsi kebanyakan orang, politik adalah ‘lahan garapan’ yang menghasilkan keuntungan rupiah. Dimana orang-orang yang terlibat di dalamnya memiliki pengaruh yang bisa membuka kran rupiah karena memiliki akses ke lingkaran penguasa. Atau paling kurang, pundi rupiah atas nama “operasional” akan mengalir dari partainya sendiri tatkala ada kegiatan-kegiatan politik yang akan disukseskan.

Tak bisa ditampik, paradigma semacam ini memang sudah begitu mengakar dalam masyarakat ‘ammah. Namun tidak serta merta semua orang yang terlibat dalam politik bisa disamaratakan. Perjalanan waktu menegaskan bahwa diluar sana masih ada orang-orang yang ikhlas menjadikan politik sebagai lahan dakwah untuk memperkuat nilai-nilai kebaikan yang terkadang harus dilakukan dengan mengorbankan uang dan harta benda sendiri untuk menjalankan misi perjuangannya.

Dalam konteks ini, saya tidak memastikan bahwa orang tua saya dan teman-teman seperjuangannya adalah orang-orang hebat yang ikhlas berjihad di politik atau justru mereka termasuk orang yang sebatas mencari keuntungan di politik. Sebab apapun cerita, keihklasan seseorang tidak bisa ditebak karena ia tersembunyi di lubuk hati yang paling dalam. Namun bagaimana pun saya harus jujur bahwa sejauh yang saya ketahui, Abu dan beberapa teman seperjuangnya yang saya kenal, benar-benar orang yang ‘berjihad’ di politik dan untuk kebutuhannya mereka kerap mengorbankan harta bendanya sendiri.

Dalam kehidupan pribadi, orang tua saya bukan tipe orang yang melimpah harta bendanya. Bukan juga saudagar yang punya usaha menjanjikan untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan keluarga. Beliau adalah sosok sederhana yang serba tidak berkecukupan. Jangankan untuk hidup mewah, mencari nafkah sehari-hari saja masih menjadi beban.

Kami sebagai anak-anak beliau memaklumi sesadar-sadarnya akan hal itu. Sebab yang terlihat dimata kami, sehari-hari beliau harus berjuang keras, berpacu dengan waktu untuk melayani umat, mengurus dayah yang beliau pimpin dan mencari nafkah untuk kami. Sehingga pantas saja, ketika kami meminta uang Rp. 20.000 misalnya, yang kami peroleh dari beliau kadang-kadang tidak sampai setengah dari yang kami butuhkan. Namun bagi kami, khususnya saya pribadi, hal itu sudah tidak menjadi beban. Sebab Ummi kami selalu memberikan semangat untuk kami bahwa Abu –sapaan kami untuk sang ayah- adalah tipe orang yang ‘mewakafkan’ diri untuk dakwah agama dan menghidupkan syiar Islam. Itu menjadi hal yang paling utama dalam hidup beliau.

Namun, suatu hal yang sulit dicerna pada saat itu, di tengah kondisi ekonomi pribadi yang rapuh, Abu kerap menyisihkan rezeki, terkadang malah menjual harta benda yang ada untuk kepentingan jihad politiknya. Kepada kami (anak-anak beliau), Ummi kami bercerita perihal betapa Abu berkorban untuk perjuangan politiknya. Cerita Ummi, Abu seringkali harus menjual hewan-hewan peliharaannya untuk berangkat mengikuti rapat-rapat partai atau kegiatan partai yang lainnya. Kadang-kadang Abu menjual ayam atau bebek, kadang pula Abu menjual biri-biri peliharaannya. Tergantung besaran biaya perjalanan yang beliau butuhkan. Untuk mengikuti kegiatan se-tingkat kabupaten –saat itu masih Aceh Utara- biasanya Abu menjual ayam atau bebek. Dan untuk mengikuti kegiatan di tingkat provinsi biasanya Abu menjual biri-biri atau kambing.

Sebagian orang, terlihat lebih sejahtera ketika bergabung dalam partai politik, tapi kenapa Abu justru malah menghabiskan uang sendiri sampai-sampai menjual hewan peliharaan untuk mengikuti kegiatan politik partainya? Saya membatin melihat apa yang Abu lakukan saat itu. Tidak hanya Abu, beberapa teman seperjuangannya setau saya juga kerap melakukan hal yang sama.

Setelah kemudian hari, saya mencoba menelusuri, saya simpulkan bahwa ternyata bagi mereka memasuki gelanggang politik berarti menapakai kaki di gelanggang perjuangan. Ya, perjuangan untuk bagaimana menjadikan politik sebagai instrumen mengokohkan implementasi nilai-nilai ideologis ke-Islaman serta pengamalan nilai-nilai warisan Rasulullah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara sistematis dan massif. Sehingga hitung-hitungan dalam politik adalah pahala, bukan rupiah. Pantas saja, mereka mencoba bertahan dalam politik walau penuh pengorbanan.

Bersambung...

15 Ulama Aceh Bertemu Surya Paloh, Tu Sop: Perbedaan Harus Saling Memperkuat Bukan Menghancurkan

Ulama Aceh Berpose Dengan Surya Paloh
Tusop.com – Jakarta | Sebanyak 15 ulama Aceh, Selasa (1/8/2017) diundang bertemu ketum NasDem, Surya Paloh. Pertemuan tersebut membahas masalah kebangsaan. Para ulama diterima di kantor DPP NasDem, Gondangdia, Jakarta Pusat. Diantara 15 ulama tersebut turut hadir, Tgk H. Muhammad Yususf Abdul Wahab atau biasa disapa Tu Sop, Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb.

Seperti diberitakan detik.com, dalam wawancara dengan media online nasional tersebut, Tu Sop mengatakan pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi sekaligus membicarakan masalah kebangsaan. Beliau berharap dalam berbangsa tidak ada perbedaan yang dapat menghancurkan satu sama lain.

"Bagaimana elemen-elemen yang saling berbeda, kepentingan-kepentingan yang saling berbeda, bagaimana kita ramu dengan konsep Islam menjadi sesuatu yang saling memperkuat bukan saling menghancurkan. Kalau antar-elemen anak bangsa saling menghancurkan, yang hancur itu bangsa sendiri," ujar Tu Sop.

Portal acehtrend.co turut memberikan, Surya Paloh mengapresiasi Tu Sop yang menyampaikan gagasan persatuan umat Islam dalam rangka menjawab berbagai persoalan bangsa yang sedang menghinggapi Indonesia saat ini.

Tawaran konsep agar para stakeholder keluar dari eklusifitas, menurut Surya Paloh merupakan sebuah gagasan luar biasa. Apalagi pada pertemuan itu Tu Sop bicara secara blak-blakan namun tetap ilmiah dan argumentatif. (admin)


Sumber: detik.com dan acehtrend.co

Senin, 31 Juli 2017

Pendengki Takkan Pernah Bahagia

Tu Sop bersama Abu Kuta Krung dan Abu Langkawe
Tusop.com - Berharap berada pada posisi terbaik dan menguntungkan dalam kehidupan, sah-sah saja. Sebagaimana sah saja setiap orang tidak ingin berada pada posisi terpuruk dan tidak menguntungkan. Tetapi, merasa tidak nyaman manakala orang lain berada pada posisi yang lebih nyaman adalah kekeliruan. Sebagaimana kelirunya merasa nyaman manakala orang lain terpuruk dalam ketidak-nyamanan.

Dengki, begitulah 'kekeliruan' ini biasa diistilahkan. 'Kelainan jiwa' yang ditegaskan Rasul akan melenyapkan nilai-nilai amal kebajikan laksana api meleyapkan kayu bakar ini ditandai dengan munculnya gelaja "SMS"; Senang Melihat Orang Susah atau Susah Melihat Orang Senang. Bila gejala ini sudah mulai dirasakan, sebaiknya harus segera dilakukan penanganan serius. Sebab jika tidak, akan berakibat fatal bagi kenyamanan hidup di dunia dan akhirat.

Bagi pendengki, kenyamanan hidup adalah sesuatu yang mahal. Sangat sulit didapat dan dirasa. Sebab orang yang di dalam hatinya tertanam dengki, batinnya senantiasa tersiksa oleh kemurahan Allah swt terhadap hamba yang dikehendaki-Nya. Dimana kucuran nikmat yang tiada henti itu akan dirasakan si pendengki sebagai cambuk yang menyakitkan.

Selama nikmat-nikmat Tuhan terus mengalir untuk hambanya, selama itulah pendengki harus kehilangan kebahagiaannya. Lantas kapan pendengki akan bahagia? Tidak. Tidak akan. Karena pendengki mustahil bahagia.

Politik Yang Saya Jalani dan Hayati (Bagian 1)

(Catatan Pemikiran Politik Tgk H. M. Yusuf Abdul Wahab)

Tgk H. M. Yusuf Abdul Wahab / Tu Sop

Tusop.com - Bagi saya, politik memang bukan sesuatu yang asing. Jauh sebelum saya dilahirkan, politik sudah dulu masuk ke dalam rumah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Diskusi-diskusi politik kerap menjadi hiasan bibir orang-orang yang bernaung di bawah atapnya. Rumah ‘santeut’ –istilah orang Aceh– yang terletak tak jauh dari stasiun kereta api Jeunieb itu menjadi saksi keseriusan orang tua saya bersama teman-teman seperjuangannya mendiskusikan berbagai dinamika politik yang berkembang saat itu. Orang tua saya, Tgk H. Abdul Wahab Hasballah – Abu, begitu kami (anak-anak beliau) biasa menyapa-, cerita orang-orang, sudah aktif berpolitik sebelum saya belum lahir. Saat itu beliau masih berjihad politik dibawah panji sebuah partai politik yang kala itu menjadi tempat bernaung mayoritas ulama dayah Aceh, Partai Tarbiyah (Perti).

Tgk H. Abdul Wahab
(Ayahanda Tu Sop)
Orang tua saya memang tidak dilahirkan sebagai politisi. Masa-masa mudanya lebih banyak dihabiskan menempa diri di majelis ilmu. Sebelum menikah dengan ummi saya, Hj. Zainab Muhammad Shaleh, “Ummi” biasa kami memanggilnya, beliau aktif belajar ilmu di dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan asuhan ulama terkemuka Aceh, Abuya Syeikh Muda Wali Al-Khalidi, biasa disapa Abuya Muda Waly. Selain sebagai seorang ulama besar Aceh yang memiliki tingkat pengetahuan agama di atas rata-rata, Abuya Muda Waly juga sosok ulama yang memberikan perhatian cukup serius pada dunia politik. Kala itu, Abuya dikenal sebagai tokoh sepuh di dalam partai Perti. Sudah barang tentu, sebagai seorang yang paham betul urgensitas ulama menguasai politik untuk memuluskan misi penguatan penerapan nilai-nilai Islam dan ahlussunnah wal jama’ah dalam kehidupan berbangsa, Abuya kerap memaparkan pemikiran-pemikiran beliau terhadap politik di depan murid-muridnya. Sehingga tak pelak, murid-murid beliau saat itu ikut terpanggil untuk berkontribusi mengembangkan misi Abuya dalam politik. Dan mayoritasnya, mereka mengikuti jejak dan teladan gurunya dengan ikut bergabung dalam partai Perti.

Sebagai murid yang kerap mendapat ideologi langsung dari Abuya, orang tua saya, Abu, ikut terdorong untuk memberikan perhatian serius pada politik. Dan kala itu, Abu bergabung dengan partai Perti. Untuk membesarkan partai inilah, Abu bersama teman-teman seperjuangannya berjuang keras sesuai kemampuan yang ada. Beliau kerap ikut dalam berbagai diskusi dan kegiatan-kegiatan politik kepartaian.

Sejak saya masih kecil, saya kerap melihat Abu duduk bersama teman-teman seperjuangan yang mayoritasnya pimpinan dayah membahas agenda politik. Mereka kerap duduk berdiskusi di teras rumah kami atau balai di depan rumah tempat para santri belajar. Kadangkala mereka berdialog dengan cukup serius hingga kening mengerut. Kertas-kertas bergambar mesjid dan bertulis “Perti” yang berserekan di halaqah majlis membuat suasana semakin ramai. Mereka berpikir keras bagaimana mengatur strategi untuk memenangkan partainya pada setiap agenda politik. Terkadang, diskusi mereka mengalir ringan dan santai sembari bercerita yang sesekali dibumbui canda tawa yang menggelegar. Mengingat momen itu, ingin sekali rasanya berada kembali duduk diantara mereka.

Ada banyak orang yang kerap bergabung mendiskusikan Perti saat itu. Namun saat itu, masih terlalu sulit bagi saya untuk menghafal setiap nama dan wajah mereka dikarenakan faktor umur saya yang masih belia saat itu. Yang saya kenal baik diantara mereka yang kerap bergabung dalam forum adalah Tgk Sya’wab Samalanga dan paman saya sendiri yang juga pimpinan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ma’had Ulum Diniyah Islamiah (MUDI) Mesjid Raya, Samalanga kala itu, Tgk H. Abdul Aziz Muhammad Saleh yang biasa disapa Abon Samalanga. Selebihnya, saya tidak terlalu mengenalinya.

Bersambung...

Senin, 15 Mei 2017

Rizki; Yang Halal Lebih Berkah dan Nikmat

Siapa yang tak mau hidup kaya? Nyaris semua orang menginginkannya. Hanya segelintir orang yang benar-benar mampu memenej hati untuk membatasi diri dari pundi-pundi dunia. Walaupun sebenarnya kekayaan bukanlah suatu yang tercela jika ia dimanfaatkan untuk kebaikan dan dijadikan sebagai penunjang akhirat. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika manusia menjadi ‘gila' kaya hingga akhirnya menghalalkan segala macam cara untuk menjadikan dirinya orang tajir bergelimang harta benda.

Orang yang gila kaya kerap terbutakan mata hatinya dari halal-haram. Baginya, halal-haram tidaklah terlalu penting untuk dipertimbangkan. Yang terpenting baginya adalah bagaimana birahi kaya dapat terpenuhi. Terserah bagaimana cara mendapatkannya. Dalam benaknya, menjadi kaya adalah tujuan. Tanpa menyadari bahwa hidup di dunia hanya sebentar. Setelahnya dunia beserta segala kesombongannya harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan sang pencipta.

Inti dari hidup di dunia sesungguhnya hanya sebagai tempat untuk menyiapkan bekal akhirat. Dan segala fasilitas dunia yang diciptakan Allah swt sejatinya diperuntukkan sebagai penunjang untuk memuluskan jalan menciptakan kehidupan akhirat yang menyenangkan. Kebutuhan dan fasilitas dunia bukanlah tujuan. Maka alangkah celakalah orang-orang yang justru terbutakan mata hatinya untuk harta benda dunia dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatinya.

Harta haram adalah ibarat najis. Ya, ibarat najis yang hanya disukai oleh hewan. Bergelimang dengan harta haram ibarat mengotori diri dengan najis. Tiada sedikit pun ada kemuliaan pada dirinya dalam pandangan iman. Celaka lagi, harta haram ibarat kayu bakar akhirat. Mengumpulkan harta haram samadengan mengumpulkan kayu bakar yang akan membakar kita sendiri di akhirat nanti.

Rasulullah saw bersabda: “Setiap daging yang tumbuh dari harta haram maka neraka lebih layaknya baginya” (alhadist)
Maka oleh karena itu, dalam mencari rezki, memilah halal haram sangatlah penting. Kita harus bisa memastikan bahwa setiap rupiah yang terkumpul adalah halal. Lebih baik sedikit tapi halal ketimbang banyak tetapi haram. Miskin lebih terhormat daripada kaya dengan harta yang haram.

Daging, tulang dan darah yang mengalir di dalam tubuh sangatlah suci untuk dikotori dengan yang haram. Rezki yang halal lebih berkah dan bermanfaat. Berkah untuk dijadikan sebagai penunjang kebaikan dengan menafkahkannya pada hal-hal yang bermanfaat untuk akhirat. Apa yang bisa diandalkan dengan harta haram? Ia tidak akan berkah untuk dinafkahi bagi keluarga dan anak istri, juga tidak bisa dimanfaatkan sebagai penunjang kebaikan.

Akhirnya kita harus memantapkan prinsip dalam hati bahwa lebih miskin tiada harta atau bahkan kelaparan ketimbang kaya dengn harta haram. Rezki yang halal lebih berkah dan bermanfaat. Walaupun sedikit, ia nya menjadi bekal ‘membeli’ akhirat. Ketimbang harta haram. Semakin banyak ia dikumpulkan maka akan semakin membumbung api yang akan membakar kita sendiri di neraka nanti. Nauzubillah. [Admin]

Jumat, 12 Mei 2017

Rizki; Antara Kebutuhan dan Kemauan

"Hidup memang bukan untuk cari rizki, tetapi rizki -tak bisa ditampik- ianya dibutuhkan dalam hidup"

Begitulah kalimat yang kerap dipakai orang-orang untuk menegaskan bahwa rizki memiliki peran yang vital dalam kehidupan manusia. Dimana-mana, kemana-kemana -sudah lumrah- orang-orang membutuhkan uang dan fasilitas penunjang. Untuk menghasilkan uang dan fasilitas penunjang inilah, orang-orang bergerak siang dan malam, bekerja, berikhtiar dengan berbagai cara sesuai kemampuan.

Tidak ada yang salah dengan rizki. Tidak ada yang salah pula dengan keseriusan orang-orang berikhtiar mencarinya. Manusia memang sudah seharusnya berikhtiar. Walaupun soal hasil itu sepenuhnya sudah digariskan tuhan, Allah swt. Allah swt sudah menetapkan jumlah dan cara manusia mendapatkannya. Tidak akan bertambah, tidak pula akan berkurang. Pula tidak akan berpindah tangan. Tinggal saja manusia tugasnya berikhtiar.

Namun dalam realitas kehidupan, rizki kerap menimbulkan persoalan dan beban. Sebagian orang selalu merasa dirinya kekurangan. Banyak hal yang ingin dipenuhi tetapi tidak kesampaian. Banyak ha yang ingin diraih tetapi gagal didapatkan. Masalahnya satu, tidak memiliki finansial (rizki) yang cukup untuk mendapatkannya.

Jika ditelisik lebih dalam, ada peroalan mengapa rizki menjadi persoalan dalam kehidupan. Yaitu adanya generalisasi yang memukul rata bahwa setiap yang diinginkan adalah kebutuhan. Padahal didalam sana, ada banyak kemauan berlandas nafsu yang diatasnamakan kebutuhan. Akhirnya manusia selalu kalangkabut mengejar keinginan yang tak kunjung habis dan berhujung mengeluh karena kecewa tak kesampaian.

Kebutuhan dan kemauan dalam perspektif iman adalah dua hal yang berbeda. Kebutuhan adalah segala hal yang mendasar harus terpenuhi dalam kehidupan secara mendesak. Seperti pangan, sandang dan fasilitas lain yang layak tanpa berlebihan. Sementara kemauan adalah penunjang hidup yang sejujurnya manusia tidak akan 'celaka' tanpanya atau ianya mejadi kebutuhan tetapi untuk jangka panjang.

Sejatinya, pemenuhan kebutuhan tidak terlalu menjadi persoalan yang menyisakan beban dalam hidup. Buktinya, sejauh kita sudah menjalani kehidupan, Allah swt senantiasa memberikan kita jalan untuk memenuhinya. Hanya terkadang butuh kerja keras dan kesabaran untuk menunggunya. Dan itu wajar! Keinginan dan kemauan lah yang menyeret kita dalam beban. Sebab orang yang memiliki banyak keinginan selalu merasa tidak cukup dan kekurangan. Wajar saja, karena yang namanya keinginan memang tidak pernah habis-habisnya hingga ajal. Akhirnya saban waktu, kita beban mengejarnya tanpa henti dan kecewa saat tidak mendapatkannya.

Untuk menyikapi persoalan rizki agar kemudian tidak menyisakan beban, ada hal yang harus dipahami.
Pertama, sebagaimana sudah disampaikan di atas, bahwa rizki manusia sudah ditetapkan Allah swt. Manusia akan mendapatkannya sesuai porsi yang sudah ditentukan dan dengan cara yang sudah ditentukan pula. Tidak akan bertambah, tidak akan berkurang, pula tidak akan hilang.
Kedua, mengurangi keinginan. Apalagi yang sangat berlebihan. Kita harus 'mamaksa' diri untuk mempadai diri dengan apa yang diberi Allah swt dan mengurangi kemauan untuk memiliki segala-galanya sebagaimana orang-orang. [admin].

Sabtu, 29 April 2017

Sabar Itu Indah Sekali


Tu Sop sedang menyampaikan ceramah nuzulul quran di Kemenag Prov Aceh, 2014

Hidup tidak selamanya berjalan seindah yang diharapkan. Keluh-kesah, suka-duka, senang-susah dan tangis-tawa silih berganti datang dan pergi dalam kehidupan setiap anak manusia. Kadang kala rasa bahagia hinggap menghadirkan senyum ceria. Kadang kala rasa sedih menyapa menyisakan tangis dan air mata. Itu semua biasa. Setiap orang juga pernah merasakan hal yang sama.

Keluh kesah dalam hidup itu sejujurnya ibarat riak di samudra. Tanpa riak-riak yang beralun itu laut terlihat menoton. Tidak indah dipandang mata. Keluh kesah dalam hidup itu ibarat bukit-bukit di dataran. Tanpa bukit-bukit yang menjulang itu dataran terlihat lesu tanpa ada panorama alam yang menyejukkan mata. Ya. Keluh kesah dalam hidup itulah sejujurnya membuat hidup indah-berliku. Tidak menoton. Tidak pula kaku ibarat batu-bata yang seragam besaran dan warnanya.

Namun benar adanya bahwa ketika kenyataan wujud tak sesuai harapan, kita harus mengelus dada, menahan luka. Tetapi sejatinya itu hanya soal persepsi semata. Ya. Hanya soal persepsi. Dimana kita belum mampu melihat warna-warna indah dibalik luka. Sebagaimana dibalik mendung yang gelap tersimpan pelangi yang begitu indah. Indah sekali. Hanya saja tinggal menunggu waktu ianya akan tiba.

Untuk menunggu tibanya keindahan inilah dibutuhkan ketegaran jiwa. Ketegaran untuk menghadapi cobaan dengan senyum. Senyum sumringah yang lahir dari keterlena-an memandang warna-warni indah dibalik cobaan yang memang terlihat suram. Orang-orang yang tegar jiwanya tidak akan terbebani dengan cobaan karena ia paham bahwa untuk mendapatkan pundi-pundi pahala sabar mesti melalui jalan cobaan. Bukankah pahala sabar itu cukup menggiurkan? Tanpa cobaan pahala itu tidak mungkin digenggam.

Dan sesungguhnya, ketika kenyataan tak sesuai harapan, kita patut melihat diri sendiri dengan teliti hingga mendapati bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk yang lemah dengan segala keterbatasan. Kita hanya dapat melihat yang dhahir. Selebihnya kita hanya menerka-nerka. Sementara Allah swt Maha Mengetahui. Tentu apa yang ditakdirkan Allah itu yang terbaik buat kita. Walaupun terkadang sulit mendapatinya dan bisa mengakuinya seketika.

Allah swt berfirman: "“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (Qs. Al-Baqarah : 216) [Admin tusop.com]

Comments System

Disqus Shortname

Diberdayakan oleh Blogger.