Jumat, 27 Oktober 2017

Tu Sop: Jangan Ajak Anak Cintai Dunia

Tusop.com | Anak ibarat botol kosong. Ia dilahirkan tanpa membawa apapun kecuali kepolosan. Lingkungan dan didikanlah yang kemudian mengisi kekosongan itu. Jika lingkungan dan didikan yang ia dapatkan baik, maka terbuka peluang ia akan tumbuh menjadi anak yang berkepribadian baik. Begitu juga sebaliknya.

Rumah adalah madrasah pertama bagi anak. Warna warni lingkungan rumah adalah pemandangan pertama dan utama yang ia lihat secara dekat. Dan doktrin-doktrin serta didikan orang tua adalah 'nasehat' utama yang masuk ke hati melalui lobang telinga. Apa yang dilihat dan didengar oleh anak ini dari lingkungan dan didikan orang tua akan menjadi cikal bakal kepribadian anak secara permanen.

Oleh sebab itu Rasulullah saw mewanti-wanti: "Setiap (anak) yang dilahirkan, ia terlahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang membuat ia menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi".

Dalam upaya mendorong pembentukan akhlak dan kepribadian seorang anak menjadi pribadi yang mulia, orang tua harus memberikan pandangan-pandangan yang mencerahkan jiwa tentang eksistensi dan hakikat tujuan hidup yang akan dijalaninya. Setiap anak harus didoktrin bahwa hakikat hidup hanya 'ladang' untuk menyiapkan bekal akhirat. Tidak lebih. Doktrin ini harus diulang secara terus menerus hingga terpatri dalam jiwa sang anak secara permanen. Sebab jika tidak, anak akan salah arah dan tersesat dalam kehidupannya. Akhirnya, ia akan binasa bersama orang-orang yang celaka.

Maka diawal pertumbuhannya, anak harus diajak untuk mementingkan akhirat dalam kehidupannya. Dan jangan sekali-kali didorong untuk mencintai dunia dengan segala kesombongannya. Sebab hal itu akan berbekas dihatinya lalu ia akan menghabiskan usianya kelak untuk mengumpulkan dunia. Dan hal ini adalah kekeliruan yang akan menghancurkan masa depan akhirat anak itu sendiri.

Rabu, 25 Oktober 2017

Memaksa Diri Jadi Orang Baik

Tusop.com | Membentuk kepribadian mulia merupakan perjalanan panjang yang tak mudah. Untuk sampai ke sana, butuh kerja keras dan perjuangan yang tak mudah. Banyak lika-liku yang harus dilewati. Banyak tantangan yang harus dilalui. Tanpa militansi menahan beban, seorang perintis perjalanan ruhiah ini akan terhempas. Dan ikut binasa bersama mereka yang celaka.

Untuk sampai pada puncak akhlaqul karimah, seorang pemula harus memaksa diri untuk berperilaku baik. Ya, harus memaksa diri untuk menjadi orang baik dengan melakukan amal perbuatan para orang-orang baik. Walaupun nalurinya masih memberontak dan jiwanya belum menikmati kebaikan yang dilakukan.

Seorang yang berjiwa kikir, misalnya. Nalurinya masih tak menghendaki hartanya dibagi atau dinafkahkan pada jalan kebajikan. Ya, baginya memberi adalah beban yang tak ringan. Namun dalam kealpaan ini, seseorang tak boleh membiarkan diri bertahan dalam sikap kikirnya. Ia harus berjuang melawan nalurinya dengan terus berinfak, memberi dan membagi hartanya untuk kebajikan. Hingga terbentuk suatu kepribadian,  memberi dan berinfak adalah hal yang menyenangkan dan membahagiakan.

Memaksa diri jadi orang baik adalah tangga pertama untuk menjadi orang baik yang paripurna.

Isi Pengajian Akbar di Nagan Raya, Tu Sop Ajak Jamaah Perkuat Islam dengan Ilmu






Nagan Raya – warga Nagan Raya menunjukkan antusiasmenya mengikuti pengajian Tastafi dan Zikir Yadara yang menghadirkan Tgk H. Muhammad Yusuf A. Wahab atau Tu Sop Jeunieb di Komplek Dayah Baitul Hikmah Alue Bili Kabupaten Nagan Raya, Senin malam (23 Oktober 2017).

Selain jamaah yang hadir ke lokasi, pengajian ini juga diikuti oleh jama'ah oleh masyarapat di beberapa kabupaten di Aceh melalui Radio Yadara FM Jeunieb 92.8 MHz dan Radio Mutiara FM Beureunuen 104.8 MHz.

Dalam pengajian ini, Tu Sop mengajak masyarakat Nagan Raya untuk memperkuat Islam dengan memperkuat ilmu pengetahuan Islam. Sebab, kata Tu Sop, tanpa ilmu maka Islam itu akan lemah. Menurut Tu Sop, tanpa ilmu maka kekuatan Islam hilang.

Tu Sop juga mengingatkan kembali bahwa tegaknya agama dan peradaban adalah dengan empat perkara, sehingga keempat perkara ini menurut Tu Sop harus saling melengkapi dan memperkuat sehingga menjadi kekuatan ummat. Keempat perkara ini, kata Tu Sop yaitu ilmunya para ulama, kedermawanan orang kaya, keadilan pemimpin dan do’anya para fakir miskin.

Di depan masyarakat yang hadir, Tu Sop mengharap pada tokoh-tokoh agama dan juga Bapak Wakil Bupati Nagan Raya untuk memperkuat majelis ta'lim


Sebelumnya, wakil Bupati Nagan Raya yang baru dilantik dua minggu yang lalu, Chalidin Oesman, SE dalam sambutannya menyampaikan, bahwa mottonya saat berkampanye yang lalu adalah "Agama ta Peukong, Adat Ta peu Makmu".

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Nagan Raya juga mengajak masyarakat agar acara Pengajian dan Zikir Akbar seperti ini terus digalakkan karena dengan pengajian dan berzikir pengetahuan agama kita bertambah dan hati kita semakincerah dan bersih. [bahri/zulkhairi]


Jumat, 20 Oktober 2017

Tu Sop Ingatkan Semua Elemen Masyarakat Aceh Agar Manfaatkan Kekuasaan untuk Islam




Bireuen – Ulama muda Aceh, Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab yang akrab disapa Tu Sop Jeunieb meminta seluruh elemen masyarakat, termasuk  para penguasa di Aceh agar menjadikan kekuasaan di level apapun yang dimiliki oleh siapapun dan kelompok mana pun sebagai sarana pengabdian untuk Islam. Baik kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki oleh para pengusaha, para politisi, para akademisi, dan setiap tokoh atau pribadi lainnya. 

 “Para penguasa di level apapun hendaknya menjadikan kekuasaan untuk memperkuat Islam, dan jadikan Islam untuk fondasi kekuasaan. Kekuatan Islam harus menjadi kekuatan bangsa, dan kekuatan bangsa menjadi kekuatan Islam, “ ujar Tu Sop yang merupakan pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb Kab. Bireuen ini, Sabtu, (21/10).

Sebab, kata Tu Sop, semuanya punya tanggung jawab masing-masing yang akan dipertanyakan kelak nanti di akhirat. Islam adalah segalanya bagi umat Islam, bagi dunia dan akhirat mereka. Masa kejayaan Aceh, kata Tu Sop, ditandai dengan dominasi Islam dalam kekuasaan lewat pengaruh dan keberhasilan dakwah para ulama.

“Saat kekuasan hadir menjadi kekuatan Islam, maka hasil dan pencapaiannya akan lebih besar ketimbang hasil yang diraih dengan hanya mengandalkan ilmu dan pendidikan, “ kata Tu Sop.


Sebagai contoh, kata Tu Sop, secara keilmuan, perintah menutup aurat tidak pernah berhenti dilakukan. Akan tetapi, hasilnya tetap terbatas. Namun, setelah atau jika kekuasan hadir untuk menggerakan perintah tutup aurat, maka semakin banyak yang menutup aurat jika dibanding masa lalu, seperti yang bisa kita saksikan selama ini. Artinya, tambah Tusop, fenomena ini merupakan keberhasilan dan pengaruh kekuasaan.

Maka, terlindung dan tidaknya agama ini sangat tergantung sampai dimana komitmen kekuasaan untuk melindunginya. Saat kekuasaan melepaskan diri dari agama, niscaya agama akan menjadi telanjang tanpa perlindungan, dan kekuasaan akan rusak tanpa bisa diselamatkan oleh agama. 

Oleh sebab itulah, kata Tu Sop, sebuah kekuasaan harus bermanfaat untuk agama, dan  agama menjadi penguat bagi kekuasaan yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Dan masing-masing umat Islam harus bergerak dengan posisi masing-masing tanpa saling menyalahkan karena ini merupakan tanggung jawab semua pihak. 

 “Dua-duanya harus saling memperkuat. Sebab, agenda kolonialisasi dan kapitalisme yang menghancurkan umat Islam sering kali terjadi dan dimulai dengan pemisahan agama dengan kehidupan. Efeknya, saat agama dipisahkan dari kekuasaan maka kekuasaan akan dikuasai oleh kekuatan lain yang anti agama,“ tambah Tu Sop.

Kalau dipisahkan, kata Tu Sop, maka akan melahirkan orang-orang yang tidak beragama menjadi penguasa dan politisi. Sebagai contoh, kata Tu Sop, saat agama dipisahkan dari ekonomi, maka ekonomi akan menjadi kekuatan yang berada di tangan orang lain yang akan menghancurkan perekonomian umat Islam. Begitu juga dalam hal politik, kalau para politisi tidak mengabdi untuk Islam, maka kekuasaan akan berubah menjadi penghancur bagi eksistensi Islam.

“Itulah mengapa dulu bangsa kolonialis mengampanyekan sekulerisme di tengah-tengah muslim. Sebab, mereka paham bahwa dengan memisahkan politik dengan agama maka mereka akan berhasil memisahkan para politisi atau penguasa dari agamanya sehingga terjadilah berbagai kehancuran, “ ujar Tu Sop.

Oleh sebab itu, untuk level Aceh, kata Tu Sop, para penguasa, politisinya maupun elemen masyarakat lainnya hendaklah mengabdi untuk Islam. 

‘Buatlah kebijakan-kebijakan yang menguntungkan Islam. Jadilah teladan dalam pengamalan Islam supaya ummat ini selamat dunia dan akhirat, “ pungkas Tu Sop. [zul]

Refleksi Hari Santri, Tu Sop Jeunieb Minta Santri Jangan Diamkan Kebenaran

Tu Sop mengisi pengajian di geuleumpang Tiga, Pidie, 20 Oktober 2017
 
Bireieun  Sehubungan dengan peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober, ulama muda Aceh, Tgk H. Muhammad Yusuf A. Wahab yang akrab disapa Tu Sop Jeunieb mengajak para santri untuk terus menyampaikan kebenaran. Sebab, kata Tu Sop,  secara umum, kelemahan terbesar para pelaku kebenaran dewasa ini adalah kekalahan mereka dalam menguasai opini publik.
 
“Hari ini di dunia global terjadi phobia Islam di berbagai negara. Ini terjadi karena lemahnya arus dakwah yang dilakukan oleh umat Islam. Jauh lebih lemah dari “dakwah” mereka yang phobia terhadap Islam. Di sinilah diperlukannya peran santri untuk terus menyuarakan kebenaran dalam setiap ruang sehingga kebenaran menjadi opini publik, “ ujar  pimpinan Dayah Babussalam Jeunieb Bireuen ini.

Tu Sop menjelaskan, saat Nabi Muhammad Saw meminta ummat untuk ‘sampaikan kebenaran walau hanya satu ayat’, maka lihatlah di masa itu bagaimana para sahabat setelah mendengar satu nasihat dari Rasulullah Saw, semuanya bergerak menyampaikan.  Maka kemudian kebenaran menjadi opini publik karena sebuah kebenaran dari Rasulullah Saw disampaikan secara massif oleh semua sahabat.

“Maka begitu juga hari ini, kalau para santri terus menyuarakan kebenaran, maka kebenaran juga akan menjadi publik. Begitu sebaliknya, kebenaran akan dianggap kebatilan jika para santri mendiamkannya, “ ujar Tu Sop.

Tu Sop menambahkan, setiap aliran atau pemikiran yang tersampaikan secara merata akan menenggelamkan aliran yang lebih lemah jangkauannya. Jika pemikiran yang tersebar meluas itu adalah batil, maka akan terjadi pembenaran publik karena kemampuannya memperdengarkan dan menyampaikan ke kalangan yang lebih luas dan merata.

Tu Sop juga menerangkan, kebenaran yang tidak tersampaikan secara merata akan tenggelam dan hancur oleh kebatilan yang tersampaikan secara meluas dalam semua lapisan dan kawasan.

“Nilai-nilai kebenaran yang ada pada santri yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah Saw dan sahabat, dia akan terdegradasi oleh aliran-aliran atau pemikiran yang menyimpang dimana dalam penyampaiannya lebih cepat dan lebih luas jangkauannya dan lebih sistematis. Akibatnya, kebenaran yang diwariskan dalam dunia santri akan menjadi tenggelam bukan karena dia tidak benar dan tidak baik sehingga dituduh eklusif, tetapi oleh sebab lemah di dalam strategi dakwah dan pembentukan opini publik, “ kata Tu Sop.

Intinya, kata Tu Sop, kalau pelaku kebenaran diam, maka yang terjadi adalah kebenaran itu akan dikesankan sebagai kebatilan. Tu Sop juga menerangkan, ada dua hal yang perlu diperhatikan secara seimbang dalam mempertahankan nilai-nilai Ahlusunnah wal Jama’ah. Pertama, kajian tentang bagaimana mempertahankan kebenaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah Saw, jangan dimasuki oleh bid’ah dan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Alquran dan Sunnah. Kedua, bagaimana strategi Rasulullah Saw dan para sahabat dalam mendakwahkan kebenaran tersebut.
 
Namun demikian, kata Tu Sop, penyampaikan kebenaran oleh para santri juga harus memenuhi aspek hikmah, mau’idhah hasanah, dan mujadalah dengan cara yang ahsan (terbaik), proporsional (sesuai dengan kebutuhan publik) dan professional.

“Artinya, sampaikan argumentasi Islam dengan cara-cara yang terbaik sehingga kebenaran bisa diterima dan menjadi opini publik, “ pungkas Tu Sop.[zul]

Jumat, 15 September 2017

Sabtu Malam, Tu Sop Pimpin Istighatsah Rohingya di Bireuen

Tusop.com, Bireuen | Sabtu malam (16/9), Tgk H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab yang biasa disapa Tu Sop akan memimpin istighatsah untuk Rohingya di Mesjid Agung Sultan Jeumpa, Bireuen. Kegiatan ini diselenggarakan oleh sejumlah ormas dan OKP yang berada di Kabupaten Bireuen.

Berdasarkan keterangan panitia, acara akan mulai pada pukul 19:30 dengan rangkaian acara; shalat ghaib‎, tausiah, zikir akbar dan donasi untuk rohingya.

Panitia mengajak seluruh kaum muslimin dan muslimat untuk ambil bagian dalam acara yang diberi tema "gerakan peduli Rohingya" ini. (admin)

Rabu, 13 September 2017

Mencari Nafkah Juga Bisa Jadi Ibadah

Tusop.com | Memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasar anak dan istri adalah kewajiban seorang kepala keluarga. Tak pelak, untuk memenuhi tanggungjawab ini, seorang kepala keluarga harus berpikir keras dan berikhtiar sekuat tenaga. Tak sedikit yang malah harus banting tulang dan bermandikan keringat setiap harinya.

Dalam persoalan rizki, banyak orang mengira, bekerja mencari rupiah adalah soal dunia semata. Padahal tidak. Bekerja bisa jadi ibadah. Selama berkerja dibangun atas niat yang baik, dilakukan dengan cara yang baik dan diperuntukkan pada jalan kebajikan.

Menafkahi keluarga adalah cara yang mulia dan bijaksana dalam menginfakkan harta pada jalan kebajikan. Betapa tidak, memberi nafkah adalah kewajiban. Dan menunaikan suatu kewajiban adalah cara terbaik untuk beribadah.

Maka jangan malas atau sungkan berkerja untuk mencari nafkah. Karena mencari nafkah juga bisa jadi ibadah. 

Senin, 04 September 2017

Teguh Ditengah Terpaan 'Badai' Kehidupan

Tusop.com | Istiqamah dalam ketakwaan adalah tuntutan yang paripurna. Dalam berbagai kepentingan, meneguhkan diri dalam ketakwaan lebih dari segalanya. Dinamika dan lika-liku kehidupan tidak boleh memudarkan apalagi meruntuhkan semangat bertahan dalam kebajikan.

Meneguhkan diri dalam ketakwaan ditengah terpaan kepentingan dan peliknya lika-liku kehidupan memang bukan persoalan gampangan. Tetapi tiada pilihan lain. Istiqamah dalam kebajikan atau hancur dalam kepingan dosa. Memilih berhenti menjadi orang baik karena kepentingan duniawi adalah pilihan paling keliru yang harus dibayar mahal.

Untuk membentuk hati yang teguh, perlu sebuah kesadaran bahwa hidup adalah ujian. Problematika kehidupan adalah lembaran kertas ujian yang harus dijawab secara tepat berdasarkan tuntunan. Dan dalam setiap 'menjawab' dinamika kehidupan, pastikan coretan-coretannya sesuai dengan tuntunan Allah swt dan Rasul-Nya. Bukan berdasarkan selera, apalagi hawa nafsu.

Rabu, 30 Agustus 2017

Jangan Gengsi! Minta Maaf Bukan Pekerjaan Hina

Tusop.com | Dalam interaksi keseharian dengan keluarga, teman, jiran, relasi atau orang-orang sekitar, siapa yang tak pernah terjebak dosa? Nyaris semua orang pernah tersilat lidah, tersalah sikap atau terlanjur kata. Ya, nyaris semua orang. Namun yang membedakan, orang bijak akan bersegera intropeksi diri. Sementara orang sombong akan mencari beribu alasan untuk bersembunyi dari kesalahannya.

Berani mengakui kesalahan adalah ciri kebesaran jiwa dan berani minta maaf adalah ciri kemulian jiwa. Sebab orang mulia, tidak akan bertahan dalam kenistaan dengan alasan apapun.  Tapi lantas bangkit dari keterpurukan untuk menata masa depan yang lebih baik. Sementara pengecut akan terus mencari alasan untuk melakukan pembenaran-pembenaran atas kesalahan. Sebab dalam pandangan pengecut, mengakui kesalahan adalah keaiban dan minta maaf atas kesalahan adalah suatu kehinaan. Sehingga pantas saja, pengecut takkan pernah bangkit.

Oleh karena demikian, saat terlanjut menyakiti hati saudara sesama muslim, cepat-cepat minta maaf. Jangan gengsi. Karena minta maaf bukan pekerjaan hina yang meruntuhkan wibawa. Minta maaf takkan membuat kita rendah. Malah membuat kita mulia. Mulai dimata Allah, juga mulia dimata orang yang kita mintai kemaafannya.

Betapa tidak, saat orang lain mengakui kesalahannya pada kita lantas minta maaf, apakah kita memandangnya hina? Tidak bukan? Ya, tidak. Malah justru kita melihatnya sebagai sosok yang mulia. Lalu mengapa kita sungkan minta maaf? (admin)

Minggu, 27 Agustus 2017

Gila Pujian itu Menyakitkan!

Tusop.com | Mendapat puji saat berbuat baik, tak masalah. Tapi merasa bangga saat dipuji itu gejala jiwa mulai terjangkit masalah. Dan lebih parah,  berbuat baik karena berharap puji manusia adalah sumber masalah.

Dipuji saat berbuat baik adalah realitas yang tak mungkin dilawan. Adalah hak orang lain untuk memberi aplus atas setiap kebaikan yang dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh kita. Dan pada prinsipnya, pujian tak berimbas buruk bagi kita. Asalkan pujian tak disambut dengan busung dada.

Busung dada saat dipuji adalah gejala awal penyakit 'cinta' pujian. Dimana merasa nyaman dan senang saat dipuji bila tidak tertangani, pada tahap yang lebih kronis akan menjadikan kita pribadi yang 'gila' pujian. 'Kelaianan' ini akan memberikan dampak yang menyakitkan. Tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia.

Dalam kehidupan dunia, pribadi yang gila pujian kerap didera rasa kesal dan kecewa. Dimana realitas bahwa tak selamanya kebaikan akan berbuah pujian adalah fenomena yang tak sejalan dengan harapan. Dan sesungguhnya, berharap puji manusia berarti membeli kesal dan kecewa. Betapa tidak, bagi manusia memuji adalah barang mahal yang tak gampang didapatkan.

Semantara untuk kepentingan akhirat, jelas bahwa gila puji cukup merugikan. Dimana berharap puji manusia atas kebaikan akan melunturkan nilai kebaikan itu sendiri dimata sang pemilik pujian, Allah pemilik semesta alam. (admin)

Comments System

Disqus Shortname

Diberdayakan oleh Blogger.