Senin, 18 Juni 2018

Buka Pintu Rezeki Dengan Istighfar


Tusop.com | Rezeki mutlak pemberian Allah. Manusia hanya ditugaskan berusaha, selebihnya Allah yang menentukan besaran dan sumber datangnya karunia itu. Kita patut belajar dari kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail as.

Rezeki tidak ditentukan oleh usaha. Luas dan sempitnya rezeki bukan pengaruh dari kuat dan lemahnya usaha kita dalam menggapainya. Jika Allah sudah menentukan razeki kita jumlahnya "sekian", maka tidak akan bertambah maupun berkurang.

Namun secara asbab, soal razeki seorang yang beriman erat kaitannya dengan bagaimana hubungannya dengan Allah swt. Jika hubungannya dengan Allah baik, maka Allah akan memudahkan jalan rezekinya. Begitu juga sebaliknya.

Salah satu sebab sempitnya rezeki adalah dosa. Jika diumpamakan rezeki itu adalah air, maka dosa adalah penyubat salurannya. Sehingga dosa membuat jalannya rezeki tersumbat-sumbat.

Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR. Ahmad)

Oleh karena demikian, jika kita mendapati diri dalam kondisi rezeki yang sempit, instropeksi diri. Barangkali ada dosa-dosa masa lalu yang belum terampuni atau malah kita masih terus larut di dalamnya. Maka beristighfarlah. Buka kembali pintu rezeki dengan istighfar. (admin)

Minggu, 17 Juni 2018

"Mati Sebelum Ajal"

Tusop.com | Hidup itu terus ada selama nilai-nilai kehidupan masih terus ada di dalamnya. Selebihnya, jiwa telah mati walaupun ajal belum memisahkan tubuh dari nyawa.

Nilai inti hidup adalah terus bergerak dalam ikhtiar menjadikan hidup tak sekedar hidup lalu mati tanpa berjejak. Tetapi bagaimana berikhtiar agar setiap detik-detik kehidupan terisi dengan nilai-nilai kebaikan yang menjadi saksi kita pernah ada walaupun kemudian telah pergi ke alam yang berbeda.

Jika hidup hanya sekedar ada lalu tiada lantas apa bedanya hidup kita dengan buih-buih di lautan? Atau apa bedanya hidup kita dengan kera-kera di hutan? Tidak. Sama-sama ada lalu pergi tanpa meninggal bukti bahwa kita pernah ada.

Maka, teruslah berbuat. Lakukan apapun yang bisa dilakukan sekarang juga tanpa menunggu esok atau lusa. Teruslah bergerak melakukan kebaikan-kebaikan selagi bisa. Isi hidup dengan sekecil apapun hal-hal yang bernilai. Jangan berhenti berbuat. Karena hidup adalah gerak. Diam berarti mati.

Berhenti berbuat untuk membuat hidup menjadi bernilai samasaja kita telah berhenti menghirup nafas. Kita telah mati sebelum ajal tiba. Tinggal menunggu ajal datang membawa kita ke dalam penyesalan yang tiada tara.

Minggu, 13 Mei 2018

Tu Sop Jeunib Serahkan Kunci Rumah Bantuan BMU untuk Warga Miskin Pidie Jaya




Pidie Jaya - Imam Besar Barisan Muda Ummat (BMU), Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop Jeunieb) menyerahkan kunci rumah bantuan BMU yang keenam untuk nenek Jamilah Husen, seorang janda (62 tahun), warga Gampong Mns. Jurong Teupin Pukat kecamatan Murah Dua Pidie Jaya.

Proses penyerahan kunci rumah bantuan yang berlangsung sore hari menjelang maghrib ini, selain disaksikan warga juga dihadiri para relawan BMU, Sabtu, (12/05).

Humas BMU, Tgk Al Fadhal mengatakan, rumah bantuan BMU ini adalah yang keenam semenjak BMU didirikan dengan dana kumpulan dari masyarakat yang dikumpulkan relawan BMU.

Sebelumnya, kata Tgk Al Fadhal, nenek Jamilah tinggal di rumah panggung yang sudah keropos tiang dan lantainya. Di rumah yang beratap daun rumbia yang sudah bocor itu nenek Jamilah tinggal selama 20 tahun lebih.


Nek Jamilah mengaku bergembira atas bantuan rumah ini.  “Syukurlah, Allah telah memberikan jalan seperti ini tanpa saya duga. Mungkin ini jalan yang Allah berikan di dalam doa-doa saya” kata nek Jamilah, yang juga ketua majelis Taklim kemukiman Kuta Simpang masjid Japakeh ini.

Sementara itu, Tgk H. Muhammad Yusuf A. Wahab dalam pidato singkatnya saat penyerahan kunci  mengatakan, pengumpulan donasi untuk rumah ini  berlangsung selama 15 hari yang dikelola oleh Gerakan Peduli Ummat (GPU) dibawah bimbingan Abiya Rauhul Mudi  dengan jumlah donasinya Rp. 22.000.000. [Zulkhairi]


Tu Sop Jeunieb Serahkan Kunci Rumah Bantuan BMU Kelima untuk Warga Cot Paleu Pidie




Pidie - Tgk H. M. Yusuf A. Wahab selaku Imam Besar Barisan Muda Ummat (BMU) menyerahkan kunci rumah bantuan layak huni DPD BMU Kabupaten Pidie pada Kamis, (03/05/2018). Bantuan rumah ini merupakan bantuan kelima yang diserahkan BMU dimana donasi pembangunan rumah ini berasal dari sumbangan masyarakat via relawan BMU.

Ketua DPP BMU Pusat Abiya Rauhul Mudi melalui Sekjen DPP BMU Pusat Tgk Zainuddin MZ mengatakan proses penyerahan kunci rumah tersebut dilakukan pendiri BMU Aceh, Tgk Muhammad Yusuf A Wahab atau Tu Sop  Jeunieb setelah Pengajian Bulanan Rutin Guru Majelis Taklim Sirul Mubtadin Pidie, yang diterima oleh Usman Yasin (57), warga Gampong Cot Paleu Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Pidie.

Sebelumnya rumah yang ditempati, Usman Yasin dan enam orang anaknya beratap rumbia telah bocor, dengan dinding dari anyaman daun kelapa kering. Sehingga setelah diverifikasi  Tim BMU Pusat akhirnya DPD BMU Kabupaten Pidie ditunjuk untuk membangun Rumah dengan ukuran 5x6 itu dibangun dengan anggaran Rp 21,2 juta.



Tu Sop Jeunieb selaku Imam Besar Barisan Muda Ummat disela-sela prosesi penyerahan kunci mengatakan, sebenarnya hari ini kita jangan melihat nilai rumahnya, akan tetapi kita tanamkan rasa sosial diantara masyarakat kita, dimana hari ini Manusia lebih memilih hidup bergelimpangan harta secara invidual, tanpa memperdulikan hidup saudaranya dalam jeratan kemiskinan.

Maka dari itu, kata Tu Sop, semangat membantu sesama harus dihidupkan kembali. Dimana hari ini BMU mengelola Dana Donasi dari masyarakat mulai dari Rp.10.000 hingga mencapai juta-an rupiah dengan waktu 21 hari.

“Saya yakin di gampong pasti ada warga yang hendak membantu warga miskin dengan mengumpulkan uang Rp 10 ribu per orang, hanya saja sekarang tidak tenaga sukarela yang mengelola dana sumbangan warga. Kan tidak mungkin seorang warga membangun rumah Rp 10 ribu," ujar Tu Sop.

Tu Sop mengibaratkan, dahulu rasa sosial sangat tinggi yang dimiliki warga Aceh. Di saat provinsi lain di Indoensia sedang terpuruk, tapi orang Aceh tampil di garda terdepan membantu Indonesia.

"Mereka mengumpulkan uang dan emas secara kompak untuk membeli pesawat yang lagi viral dengan obligasi saat ini," kata Tu Sop yang juga Pimpinan Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunieb itu. (Al Fadhal/Zulkhairi).


Minggu, 01 April 2018

SD IT Assalam Group Pimpinan Tu Sop Jeunieb Wisudakan 70 Siswa-Siswi Hafizh 4 Juz Aquran





Tusop.com, Bireuen - Sekolah Dasar IT Assalam Jeunieb yang tergabung dalam Assalam Grup milik Pimpinan Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunieb Tgk H. Muhammad Yusuf A Wahab yang akrab disapa Tu Sop Jeunieb mewisudakan 70 siswa dan siswi. Para pelajar yang diwisuda ini sudah hafal 4 Juz Al-Qur'an, Minggu (1 April 2018).

Hal itu disampaikan oleh Ketua Humas Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA) Kabupaten Bireuen Tgk Al Fadhal, sesuai dengan wawancara singkat dengan Kepala Sekolah SD IT Assalam Ustad Samir Sabri.

Kepada Tgk Al Fadhal, Ustad Samir Sabri mengatakan “ 70 Siswa-siswi yang kita wisudakan hari ini merupakan Siswa-siswi yang setiap harinya menghafal 1 ayat, one Day One Ayat, sehingga hari ini mereka sudah mampu menghafal 4 Juz Al Qur'an mulai Juz 30, 29, 28 dan Juz 27.

“Jadi  mulai seminggu sebelum wisuda ini kami karantinakan mereka dalam MABIT (malam bina iman dan taqwa) selama 1 minggu, kegiatan ini dilakukan selain alasan diatas, juga untuk memperkuat, memperbagus dan memperlancar hafalan. Jumlah siswa yang diwisudakan putri sebanyak 38 orang dan putra 32 orang, jadi jumlah nya 70 orang, “ ujar Ustaz Samir Sabri.

Acara wisuda ini dipeusijuk oleh Abi Nas Jeunieb dan dilanjutkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti lomba mewarnai, puncak silat serta lomba busana muslim tingkat TK/PAUD se-Jeunieb Raya.

SD IT Assalam dan SMP IT Assalam pernah menyapu bersih Juara hafiz yang diselenggarakan oleh Disdikpora Kabupaten Bireuen beberapa waktu lalu. SD IT ini  berada di kompleks Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunieb dengan Jumlah siswanya 153 dari kelas 1 s/d kelas 4. (Al Fadhal/Zulkhairi)



Rabu, 21 Februari 2018

Gubernur NTB Tuan Guru Bajang dan Tu Sop akan Isi Ceramah Maulid Akbar di Dayah Darul Ihsan

Tusop.com, Aceh Besar - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. KH. Zainul Majdi, MA atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) dan Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop) akan mengisi tabligh akbar dalam rangka Maulid Nabi Besar Muhammad Saw di dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Siem, Darussalam, Aceh Besar.

Kenduri maulid nabi Muhammad SAW akan dilaksanakan pada Kamis 14 Jumadil Tsani 1439 H/ 1 Maret 2018. Kemudian tabligh akbar bertemakan “Dari santri Aceh untuk Indonesia” ini akan berlangsung pada Jum’at malam (malam Sabtu) setelah Isya di komplek dayah Darul Ihsan.

Diperkirakan akan dihadiri tujuh  ribu jama’ah, yang terdiri dari santri, mahasiswa, berbagai ormas Islam dan  warga dari Aceh Besar dan Banda Aceh.



Informasi dari Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, Tgk. M. Fadhil Rahmi, Lc yang menjadi penghubung Tu Sop dan TGB, sebelum berangkat ke Bireuen pada Sabtu siang, pada hari Jum'at TGB yang juga hafal 30 juz Alquran ini juga akan menjadi Khatib Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Lalu, setelah Jum’at beliau akan mengisi seminar di UIN Ar-Raniry yang diselenggarakan oleh Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Ar-Raniry.

Tuan Guru Bajang adalah ulama muda yang sukses menjadi kepala pemerintahan di NTB. Namanya kian harum setelah berhasil raih capaian-capaian menggembirakan dalam menjalankan roda pemerintahan. Figur beliau dikenal luas sebagai sosok ulama. [Mustafa Woyla


sumber: http://www.darulihsanabuhasan.com/2018/02/tuan-guru-bajang-dan-tu-sop-akan-isi.html#ixzz57nVhNkAv

Selasa, 20 Februari 2018

Tuan Guru Bajang Gubernur NTB Akan Hadiri Haul Sirul Mubtadin di Bireuen



TuSop.com, Banda Aceh – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. KH. Zainul Majdi, MA atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) direncanakan akan menghadiri Haul yang ke-III 'Majlis Ta’lim Sirul Mubtadin' Kabupaten Bireuen yang dipimpin Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop). Haul yang diselenggarakan juga dalam rangka Maulidurrasul ini diperkiarakan akan dihadiri mencapai 50 ribu Jama’ah Sirul Mubtadin yang berasal dari berbagai Kabupaten.

Dalam pembicaraan dengan admin Tusop.com, Tu Sop mengatakan saat ini panitia Haul sudah bersiap-siap menyambut kehadiran ulama muda dari NTB ini yang dikenal secara luas sukses dalam menjalankan roda pemerintahan di NTB.

Direncanakan, Haul akan berlangsung pada Hari Minggu tanggal 4 Maret 2018 di Lapangan Blang Asan, Matang Geulumpang Dua Kabupaten Bireuen. TGB sendiri, direncanakan insya Allah akan mendarat di Banda Aceh pada  pagi Jum’at tanggal 2 Maret 2018.
Foto TGB diambil dari internet

Informasi dari Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, Tgk. M. Fadhil Rahmi, Lc yang menjadi penghubung Tu Sop dan TGB, sebelum berangkat ke Bireuen pada Sabtu siang, pada hari Jum'at TGB yang juga hafal 30 juz Alquran ini juga akan menjadi Khatib Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Lalu, setelah Jum’at beliau akan mengisi seminar di UIN Ar-Raniry yang diselenggarakan oleh Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Ar-Raniry.

Sementara itu, informasi dari Tgk Mustafa Husen Woyla, pada Jum’at malam (malam Sabtu), TGB bersama Tu Sop akan diduetkan untuk mengisi dialog santri Aceh dengan tema” “Dari Santri untuk Negeri” di Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Kruengkale Aceh Besar. Dialog ini diselenggarakan dalam rangka Maulid Nabi Besar Muhammad Saw dan direncakan akan dihadiri ribuan santri dari Aceh Besar dan Banda Aceh. 


Tuan Guru Bajang adalah ulama muda yang sukses menjadi kepala pemerintahan di NTB. Namanya kian harum setelah berhasil raih capaian-capaian menggembirakan dalam menjalankan roda pemerintahan. Figur beliau dikenal luas sebagai sosok ulama.[Zulkhairi]



PROFIL TUAN GURU BAJANG

ULAMA YANG PEMIMPIN, PEMIMPIN YANG AHLUL QUR'AN
Dr. KH TGH. Muhammad Zainul Majdi, MA atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (lahir di Pancor, Selong, 31 Mei 1972; umur 44 tahun) adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) 2 periode, masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018.
Tuan Guru Bajang adalah panggilan masyarakat sasak terhadap ulama muda seperti Tuan Guru Zainul Majdi.
Dia adalah cucu dari ulama paling kharismatik di Nusa Tenggara Barat, khususnya di tanah Lombok.
525480_424885944238223_1921950303_n
Sang kakek Maulana Syekh Tuan Guru Haji M. Zainuddin Abdul Madjid adalah pendiri Nahdlatul Wathan (NW) ormas Islam terbesar di NTB.
Kapasitas keulamaan sang kakek bukan hanya kaliber daerah saja, melalui kitab-kitab karyanya, Tuan Guru Pancor juga menjadi ulama yang dihormati oleh ulama Mekkah.
Selain darah ulama, darah kepemimpinan juga menurun dari pikiran yang merupakan seorang birokrat Pemda NTB. Zainul Majdi adalah keturunan dari pasangan HM Djalaluddin SH dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid.
Sebagai keluarga ulama, pendidikan Zainul Majdi tidak lepas dari pendidikan agama yang menjadi utama. Selain belajar dari sang kakek dan ulama NW lain, Zainul kecil juga belajar di SDN 3 Mataram.
Ia lalu mendapatkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah Mu'allimin Nahdlatul Wathan Pancor dan Madrasah Aliyah di yayasan yang sama.
Lulus dari Madrasah Aliyah (Tingkat SMA) Zainul mulai menunjukkan kapasitas dan minatnya kepada ilmu. Ia memilih untuk memperdalam Islam di tanah Mesir di Univeristas Al Azhar.
Hebatnya, sebelum masuk perguruan tinggi, Zainul muda sudah menuntaskan hafalan 30 juz Alquran di Ma'had Darul Qur'an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor selama setahun (1991-1992).
Kemudian pada tahun 1992, Zainul muda berangkat ke Mesir untuk memperdalam ilmunya di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur'an Universitas Al-Azhar Kairo.
Lulus setingkat S1 pada tahun 1996, Zainul memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang master. Lima tahun berikutnya, ia meraih Master of Art (MA) dengan predikat Jayyid Jiddan.
Tidak tanggung-tanggung dalam menimba ilmu, Tuan Guru Bajang terus meningkatkan keilmuannya dengan program sarjana S3 doktor di bidang yang sama.
Pada 8 Januari 2011, dalam sidang ujian oleh Dosen Penguji Prof. Dr. Abdul Hay Hussein Al-Farmawi dan Prof. Dr. Al-Muhammady Abdurrahman Abdullah Ats-Tsuluts, Tuan Guru Bajang lulus dengan predikat Martabah EL-Syaraf El Ula Ma`a Haqqutba atau Summa Cumlaude.
KETUA NAHDLATUN WATHAN 

Kondisi memprihatinkan oleh Nahdlatun Wathan dengan dualisme kepemimpinan semenjak tahun 1997. Perpecahan dalam kepengurusan pusat NWALAH karena perbedaan pandangan tentang kepemimpinan wanita Hj Siti Raehanun Zainuddin Abul Majid sebagai pemimpin ormas Islam.
Dalam Muktamar X Praya Lombok Tengah yang memilih Hj Siti Raehanun Zainuddin Abul Majid, sebagian peserta menolak kepemimpinannya dan memilih keluar. Selanjutnya kubu yang menolak pendirian kepengurusan sendiri yang dikenal dengan PBNW Pancor.
Dari kepengurusan PBNW Pancor inilah Tuan Guru Zainul terpilih sebagai ketua umum pada tahun 2007, mengingat kapasitas ilmunya yang dalam agama Islam.
Dalam kepemimpinn Tuan Guru Bajang, sudah beberapa kali dia mengupayakan ishlah dengan PBNW Anjani pimpinan bibinya. Tahun 2010 pasingan bersatu dalam kontestasi Pilkada, namun dalam kepengurusan sampai sekarang belum ada titik temu.
DUNIA POLITIK 

Tidak terpikirkan bagi seorang ulama seperti Tuan Guru Bajang menjalani karir politik. Semuanya berawal karena hubungan akrab dengan tokoh reformis Yusril Ihza Mahendra yang mengajaknya maju sebagai anggota DPR-RI dari Partai Bulan Bintang.
Tuan Guru pun terpilih sebagai anggota legislatif periode 2004-2009. Belum genap dalam masa jabatannya, tantangan untuk memimpin lebih tinggi menghampirinya.
Banyak calon yang ingin meminangnnya sebagai calon wakil gubernur, Yusril Ihza Mahendra sangat yakin untuk maju sebagai calon gubernur NTB. Diusung PBB dan PKS Tuan Guru Bajang sukses terpilih menjadi gubernur NTB periode 2008-2013.
Pilihannya masuk ke dalam politik bukan tanpa alasan. Menurutnya dalam pengalamannya selama berdakwah, banyak sisi dakwah yang tidak bisa disentuh dengan kultural saja, tapi harus secara struktur.
Tuan Guru yang sangat concern dengan pendidikan, juga bercita-cita untuk memajukan pendidikan di NTB dan juga menggratiskan pendidikan di sana.
TERPILIH KEMBALI 

Kini Tuan Guru Zainul Majdi terpilih kembali sebagai gubernur NTB pada periode 2013-2018.
Tuan Guru adalah gubernur termuda dengan usianya yang menginjak 36 tahun pada saat dilantik sebagai gubernur NTB. Sifat muda usianya, namun jumlah prestasi sudah banyak.
Tahun 2009 beliau menerima Lencana Ksatria Bhakti Husada Arutala yang merupakan penghargaan atas jasa-jasanya dalam pembangunan Bidang Kesehatan.
Tahun 2010, Gubernur M. Zainul Majdi menerima penghargaan The Best Province Tourism Develovment dengan dikukuhnya NTB sebagai Provinsi Pengembang Terbaik versi ITA di Metro TV. Pariwisata NTB memang meningkat derastis dalam kepemimpinan Zainul Majdi.
Berkat kemajuan insdustri di NTB, Tuan Guru Bajang mendapat penghargaan kategori The Best Dedicated Governor dalam Mengembangkan Industri MICE.
Lalu terakhir, bersama gubernur Bali, Tuan Guru Bajang mendapat penghargaan Bintang Maha Putra Utama dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono karena telah berjasa banyak pada negara.
KIPRAH 

SEBAGAI ULAMA yang pemimpinnya berlatarbelakang ulama, visi keislaman tidak pernah tertinggal dalam setiap kebijakannya. Dimulai dari dirubahnya slogan NTB dari "Bumi Gora" menjadi "Bumi Qur'an".
Gubernur hafidz ini juga aktif dalam menggiatkan untuk membumikan Qur'an pada anak-anak melalui pendidikan. Dua anak penghapal Qur'an dari Gaza Palestina sempat berkunjung kekediaman Tuan Guru untuk saling berbagi.
Tuan Guru juga aktif dalam dunia keislaman dengan gelombang Konferensi Dunia Islam Internasional di Arab Saudi yang diselenggarakan oleh World Moslem League. Beliau juga mengadakan konferensi Ulama Internasional yang diadakan di Situbondo Jawa Timur. 

Kamis, 28 Desember 2017

Perkuat Gerakan Sosial Peduli Ummat, Tu Sop Lantik Pengurus BMU Pidie



Tusop.com -  Dalam rangka memperkuat gerakan sosial peduli ummat, pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb Kabupaten Bireuen, Tgk H. M. Yusuf A Wahab Selasa lalu (26/12/2017) melantik pengurus Barisan Muda Ummat (BMU) Kabupaten Pidie di Aula Hotel Safira Kota Sigli. Dalam sambutannya, ulama yang akrab disapa Tu Sop Jeunieb ini mengatakan, saat ini kita berada di zaman krisis kepemimpinan dalam membangun perilaku sosial.

Tu Sop juga memberikan motivasi kepada sejumlah pengurus dan undangan untuk terus melakukan kegiatan-kegiatan sosial saling membantu seperti yang telah diajarkan Rasulullah Saw, “ kita sekarang berada di zaman krisis kepemimpinan yang mampu menumbuhkan perilaku sosial ummat”.

Padahal, kata Tu Sop, keberhasilan Rasulullah Saw dan para sahabatnya bukan hanya sekedar mengembangkan dakwah secara lisan, tetapi juga perilaku sosial Rasulullah sangat menentukan keberhasilan dakwah Islam.

Artinya, tambah Tu Sop, disaat kita lihat orang miskin  yang rumahnya tidak layak huni dimata kita hanya melihat mereka orang yang tidak mampu tanpa terpikir oleh kita bagaimana konsep agama dalam mempergunakan harta.

“Oleh sebab itulah kita dirikan BMU ini yang bertujuan untuk merubah perilaku masyarakat agar terunggah berpartisipasi di bidang sosial, sehingga disaat kebanyakan manusia di zaman sekarang melupakan hal ini maka BMU hadir untuk mengingatkan  kembali betapa penting nilai sosial secara Islam ini, “ ujar Tu Sop yang merupakan pendiri BMU.

Seperti diketahui, sejak kehadiran BMU beberapa waktu lalu, relawan BMU binaan Tu Sop telah melakukan gerakan sosial seperti pembangunan satu rumah warga miskin di Bireuen dan saat ini juga sedang proses membangun satu rumah Matangkuli Aceh Utara dengan cara menghimpun dana dari para dermawan.

Selesai pelantikan BMU Pidie, Tu Sop pada malamnya juga memenuhi undangan Pemda Kabupaten Pidie untuk mengisi Acara Tausiah Memperingati Tsunami yang dipusatkan di Masjid Agung Al Falah Kota Sigli.

Ketua DPP Barisan Muda Ummat (BMU)Tgk Mustafa Amin mengatakan Acara Pelantikan Pengurus BMU tersebut dihadiri oleh sejumlah perwakilan Mahasiswa Universitas Jabal Ghafur dan Al Hilal Sigli.

“ Hari ini yang dilantik adalah Pengurus BMU Kabupaten Pidie, Ketua Tgk. Athailah, Sekretaris Tgk Abdusyukur, Bendahara Tgk. Muhammad Taufiq, dan untuk Ketua Dewan Mustasyar Tgk Afifuddin, “ ujar Tgk. Mustafa. [alfadhal/zulkhairi]


Kamis, 21 Desember 2017

UIN Ar-Raniry dan Dayah Babussalam Tandatangani Naskah Perjanjian Kerjasama

Banda Aceh – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof. Dr Farid Wajdi Ibrahim, MA dan pimpinan Dayah (Pesantren) Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb Kab. Bireuen, Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab menandatangani naskah perjanjian kerja sama yang meliputi peningkatan kemampuan pendidikan dan pengajaran, pengembangan bisnis dan kegiatan lainnya yang akan disepakati kemudian.
Untuk tahap awal, kerjasama kemitraan diwujudkan dengan produksi air kemasan yang akan diproduksi oleh Dayah Babussalam sebagai produsen air kemasan Yadara untuk digunakan di lingkungan UIN. Sementara untuk tahap selanjutnya dalam waktu dekat air kemasan akan dibuat atas nama UIN dan diproduksi oleh Dayah Babussalam.
Penandatanganan naskah kerjasama yang berlangsung di aula Biro Rektor UIN Ar-Raniry ini dihadiri oleh kepala biro UIN, Dekan dan Wakil Dekan, serta Direktur Pascasarjana UIN, Prof. Dr Syahrizal Abbas, MA dan Wakil Rektor III, Prof Dr.Syamsul Rijal, Rabu pagi(20/12).
Prof. Dr Farid Wajdi Ibrahim, MA dalam sambutannya mengatakan, pihaknya komitmen untuk berdayakan produk-produk lokal sehingga memberdayakan usaha masyarakat Aceh. Dalam pertemuan ini, juga disuguhkan air kemasan Yadara yang diproduksi oleh Dayah Babussalam Al-Azizyah.
“Sekarang kantin-kantin di UIN saya larang jual produk-produk Yahudi sebagai wujud komitmen saya. Saya punya pengalaman ketika datang ke dayah Al-Aziziyah Samalanga, di sana saya disuguhkan air kemasan produk Samalanga. Bagi saya itu merupakan kemajuan besar dan dimana dayah telah melakukan langkah besar, “ ujar Prof. Farid.
Sementara itu, Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab yang dikenal sebagai seorang ulama dan pengusaha ini, dalam sambutannya mengatakan arahan Rektor UIN sangat sesuai dengan harapan dan cita-cita pihaknya selama ini. Artinya, kata ulama yang akrab disapa Tu Sop Jeunieb ini, kita sepakat ada masalah di tengah umat Islam dalam mendakwah Islam.
“Hari ini kita kalah strategi dalam menghadapi strategi non muslim. Dan dengan ini kita berharap bisa menyelesaikan masalah ini ke depan. Kita akan kerjakan apa yang bisa kita kerjakan, dan tidak menunggu harus bisa mengerjakan semuanya, “ ujarnya Tu Sop.
Tu Sop juga menjelaskan, dalam bidang pemasaran dan lain-lain banyak sekali masalah. Baik masalah sumber daya manusia produsen, tenaga pemasaran dan lain-lain. Tapi hambatan-hambatan itu, kata Tu Sop akan bisa diatasi kalau kita saling bekerja sama dalam membangun arus yang kuat.
“Realitas hari ini, arus yang dibangun orang luar jauh lebih kuat dari arus kita. Makanan dan minuman kita digempur dan dikalahkan oleh makanan dari luar. Mereka yang menggempur ini bekerja keras, konsisten dan sistematis. Maka di tengah-tengah fenomena ini kita duduk bersama menyusun konsep dan berharap mudah-mudah istiqamah di waktu mendatang,” harap Tu Sop. [sumber berita: ar-raniry.ac.id]

Kamis, 30 November 2017

Isi Pengajian Wartawan di Banda Aceh, Tu Sop Jelaskan Qudwah Hasanah Manifestasi Ahlusunnah wal Jama'ah



Banda Aceh - Menjadikan Rasulullah SAW sebagai qudwah hasanah (teladan yang baik) adalah sebuah keniscayaan bagi umat Islam, dan Ahlusunnah wal Jamaah merupakan manifestasi dari perintah mengikuti dan menjadikan Rasulullah sebagai qudwah hasanah.

Demikian antara lain disampaikan Tgk H Muhammad Yusuf A. Wahab, Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, Bireuen, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (29/11/2017) malam.

Pada pengajian yang dimoderatori Badaruddin dari Dinas Pendidikan Dayah Aceh itu, Tu Sop turut didampingi Prof Dr Syamsul Rijal M.Ag (Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry). Turut hadir Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Aceh (KPIA), Muhammad Hamzah.

"Ruang lingkup qudwah hasanah Rasulullah SAW yang harus diikuti meliputi perkataan, perbuatan, pemikiran dan segala hal dalam rangka menjadikan dunia ini sebagai mazra’atul lil akhirah, atau ladang untuk mempersiapkan bekal hari akhirat," ujar ulama muda Aceh yang akrab disapa Tu Sop ini.

Tu Sop mengatakan, setelah kita memahami pentingnya  menjadikan Rasulullah SAW sebagai qudwah hasanah, maka persoalan sekarang adalah bagaimana kita mengikuti Rasulullah padahal masa hidup Rasulullah dengan kita saat ini sudah begitu jauh? Disinilah pentingnya mempelajari manhaj Rasulullah secara menyeluruh.

Tu Sop juga menjelaskan, terdapat Hadits Rasulullah yang menjelaskan bahwa semua orang akan membenarkan diri. Namun, Rasulullah mempertegas bahwa yang benar dan yang akan selamat dari sekian banyak kelompok umat Islam adalah yang mengikuti Sunnahnya dan mengikuti para sahabatnya. 

Penjelasan Rasulullah ini, kata Tu Sop yang baru saja menulis buku berjudul “Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dalam mendakwah Awam” ini, adalah untuk menegaskan bahwa menjadi Islam mestilah mengikuti Rasulullah, dan para sahabatnya, dengan itulah jalan yang selamat, dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang Ahlusunnah wal Jamaah.

“Ahlusunnah wal Jamaah dalam memahami Islam mereka mempergunakan secara seimbang antara akal dan naql (teks suci). Selain itu, Ahlusunnah wal Jamaah ini juga sangat menjaga profesionalitas dan proporsionalitas. Maka kita diingatkan, bahwa apabila sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya,“ ungkap Tu Sop.


Dalam konteks mewujudkan pikiran seperti ini, katanya, diperlukan metode berpikir yang sudah disusun oleh para ulama metode-metode yang sesuai dengan Alquran dan Hadits agar kita tidak sesat dan salah. Hal tersebut sangat menjadi perhatian ulama-ulama Ahlusunnah wal Jamaah. 

Karenanya, menurut Tu Sop, itulah maksud qudwah hasanah dalam cara berpikir, cara mencari kebenaran dan sebagainya. Seperti itulah manhaj Rasulullah SAW dan itulah sabilul mukminin (jalan orang-orang beriman).

Dalam pengajian KWPSI ini, sejumlah jamaah juga menanyakan perihal tasawuf dalam kehidupan seorang muslim, bagaimana tasawuf yang sesuai dengan manhaj Ahlusunnah wal Jamaah. 

Menanggapi pertanyaan ini, Tu Sop yang juga Ketua I Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) ini, menjelaskan, pada intinya, orang tasawuf itu tidak pernah melihat dirinya lebih baik dari orang lain.

“Selama masih melihat dirinya lebih baik dari orang lain, maka itulah yang dinamakan sombong yang diharamkan dalam Islam. Tasawuf itu bukan untuk melihat orang lain tidak baik, akan tetapi untuk melihat dan fokus pada aib-aibnya sendiri, “ terangnya.

Tu Sop juga menekankan pentingnya mencegah orang awam dari kebingungan dalam menyaksikan realitas keberagaman dalam Islam. Disitulah letak pentingnya peran pemerintah untuk mewujudkan keseragaman, sehingga masyarakat awam terhindar dari kebingungan. [zul]

Comments System

Disqus Shortname

Diberdayakan oleh Blogger.