Kamis, 25 Agustus 2016

Ceramah di Taman Sari, Tu Sop: Manusia yang Baik Itu Sukseskan Diri dan Juga Orang lain

Tusop.com, Banda Aceh – Sebuah kesuksesan adalah yang melanjutkan kesuksesannya terhadap orang lain. Manusia yang paling baik adalah manusia yang menyukseskan dirinya juga menyukseskan orang lain.
Kegagalan generasi hari ini adalah kegagalan kita. Itulah kurang lebih intisari dari kajian dakwah umum jumatan pagi tadi yang disampaikan oleh Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab yang disapa dengan Tu Sop. Jumat (27/03).
Seperti biasa Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Syariat Islam menggelar Dakwah Umum jumatan di Bustanussalatin atau dikenal Taman Sari. 
Para pelajar Kota Banda Aceh tidak ketinggalan ikut berpartisipasi dalam mendengarkan Dakwah tersebut. Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab merupakan pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Kecamatan Jeunieb Kab. Bireuen.
Kegiatan rutin keislaman bulanan Pemko Banda Aceh ini mengangkat tema “Menyiapkan Masa Depan Gemilang Pemuda Islam”.
Dalam kajiannya Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab menyampaikan “ syariat yang benar disaat mampu memperbaikinya dan memperbaiki semuanya. Kita baru dikatakan sukses apabila sanggup membangun pola pikir anak, kemudian jika menjadi pemimpin hendaklah menjadi pemimpin yang baik akhlaknya, begitupun kalau jadi orang miskin, jadilah orang miskin yang baik akhlaknya ”.
Tgk. Muhammad Yusuf mengapresiasi kebijakan yang dilakukan oleh Wali Kota Banda Aceh. “ kepemimpinan di desa gagal atau sukses tergantung pada tokoh yang ada di desa, saya sangat terharu terhadap gebrakan yang dilakukan oleh Wali Kota Banda Aceh yaitu melakukan pengajian dakwah umum jumatan seperti ini, " ujarnya.
Tgk Muhammad Yusuf kembali berpesan kepada seluruh masyarakat yang hadir bahwa, supaya hidup tidak membawa malapetaka maka perlu dilakukan beberapa hal antara lain, silahkan hidup tapi jangan pernah lupa mati, kemudian hari hari dalam menghadapi dunia jangan lupa akhirat, selanjutnya sesibuk apapun dengan makhluk jangan lupa berinteraksi dengan sang khaliq”.ungkap sang ustaz.
Penceramah mengatakan bahwa dalam hidup ini juga harus ada dua syarat, syarat yang pertama adalah cinta yang memadai, yaitu cinta surga. “ selama kita cinta surga insha allah apa yang kita lakukan semua akan berjalan mudah, yang kedua adalah takut neraka, seberapa takut ke neraka akan membuat kita ke surga” tuturnya.
Diakhir ceramahnya, ia menyampaikan jika ingin sukses maka harus ada akidah atau iktikad yang benar serta taubat nasuha.


sumber: 
http://perhubungan.bandaacehkota.go.id/v3/tu-sop-manusia-yang-baik-sukseskan-diri-dan-menyukseskan-orang-lain/

Rabu, 24 Agustus 2016

Hadiri Pelantikan Pengurus KPMI Aceh, Tusop Ingatkan Pentingnya Ekonomi Menjadi Jalan Kebahagiaan Akhirat


 
Tusop berforo bersama pengurus KPMI Aceh. Foto: menaranews.com

Banda Aceh (Aceh) – Ketua Umum Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI), Ir H Nursyamsu Mahyuddin MSi, mengukuhkan pengurus KPMI Korwil Aceh di Khaca Rayeuk Cafee, Rabu Malam (24/8).

Pengukuhan tersebut sekaligus menyerahkan mandat KPMI pusat untuk Ketua KPMI Korwil Aceh, Akmal Hanif, Lc yang baru terpilih pada tanggal 31 Juli 2016.

Gagasan pembentukan KPMI Wilayah Aceh diinisiasi oleh sekitar 20 orang yang bergerak pada berbagai kegiatan usaha di Aceh.

Dalam arahannya, Ketua Umum KPI, Ir H Nursyamsu Mahyuddin mengatakan di Indonesia baru terbentuk 29 korwil. Ia mengatakan, pengusaha masih dipandang agak negatif di Indonesia padahal pengusaha pekerjaan yg paling mulia.

“Jika ada dua orang, yang satu ustaz yang satu lagi pengusaha pasti orang lebih memuliakan ustaz padahal mereka sama-sama mulia. Apalagi ustaz yang jadi pengusaha lebih mulia,” katanya.

Menurutnya, kokohnya ekonomi negara kuncinya ada pada pengusaha. Sekurang-kurangnyan pengusaha mesti ada 2% dari jumlah penduduk negara, baru negara tersebut stabil.

“Sebanyak 2% di Indonesia itu jumlahnya adalah sebanyak penduduk di Singapura. Indonesia masih 1, 5% pengusaha,” ujarnya.

Dalam kesempatan pengukuhan, hadir juga Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab atau akrab dipanggil Tusop, T Hanansyah praktisi perbankan syariah yang juga sebagai dewan pembina KPMI Aceh. (RF)

sumber: http://www.menaranews.com/komunitas-pengusaha-muslim-diresmikan-di-aceh/

Sementara itu, Tusop yang ikut memberi sambutan dalam acara ini memberi apresiasi atas gagasan melahirkan KPMI Wilayah Aceh. Tusop mengatakan bahwa ekonomi adalah kekuatan bagi bangsa sekaligus jalan untuk meraih kebahagian kehidupan abadi pasca kematian.

“Apa yang penting kita lakukan adalah menjadi ekonomi dan bisnis kita sebagai jalan untuk kebahagiaan hidup kita di akhirat. Dan itulah bisnisnya orang-orang beriman, “ ujar Tusop. [admin

Tu Sop: Shalat Berperan Penting dalam Membangun Aceh

Arsip: Harian Serambi Indonesia
Tusop.com, – Pelaksanaan shalat sesuai ketentuan Islam dalam kehidupan umat bisa menjadi energi besar untuk menyukseskan berbagai agenda pembangunan Aceh. Shalat yang merupakan ibadah yang langsung diterima Nabi Muhammad Saw dari Allah Swt dalam peristiwa Israk Mi’raj, ditinjau dari berbagai perspektif merupakan kekuatan umat Islam untuk membangun peradaban umat Islam dewasa ini.

Demikian ditegaskan Tgk.H. Muhammad Yusuf A. Wahab yang akrab dipanggil Tusop Jeunieb, pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Kec. Jeunieb Kab. Bireuen saat mengisi pengajian rutin yang diselenggarakan Kaukus Wartawan Peduli Syari’at Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Lingke, Banda Aceh, Rabu (11/5).
Oleh sebab, kata Tusop,  persentase jumlah umat Islam yang melaksanakan shalat menjadi ukuran implementasi nilai-nilai agama dalam berbagai apskenya.

“Kalau hari ini cuma 30 persen umat Islam yang shalat, berarti agama baru tegak 30 persen, sementara 70 persen lainnya agama sedang dirusak. Begitu juga, kalau 70 persen shalat berarti agama, “ ujar Tusop yang saat ini juga aktif sebagai ketua I Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) ini.

Dalam kaitannya dengan pembangunan bangsa, kata Tusop, shalat yang dimulai dengan membesarkan Allah (takbir) dan berakhir dengan ‘salam’, itu bermaknsa bahwa sesuatu yang diawali dengan membesarkan Allah Swt niscaya akan mendatangkan keberhasilan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Tusop menambahkan, membesarkan Allah Swt itu artinya membesarkan apa yang dibesarkan Allah swt. Yang dibesarkan Allah yang pertama sekali yaitu akidah. Dalam akidah, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik yang merupakan dosa yang tiada maaf.

Lalu, apa pentingnya akidah? Menurut Tusop, Kalau kita membesarkan Allah, dosa yang paling besar itu ya syirik, sehingga upaya menjauhkan umat dari kesyirikan juga harus menjadi agenda penting dalam pembangunan.

Sementara itu, Tusop menambahkan, do’a iftitah yang dibaca dalam shalat adalah sebuah ikrar, perjanjian dan komitmen kita sebagai muslim untuk mengelola dunia ini agar sesuai dengan harapan Allah Swt.

“Ketika kita shalat, kita membaca do’a iftitah yang artinya, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah pemilik sekali alam. Itu artinya, komitmen tersebut merupakan sebuah ketundukan di hadapan Allah Swt bahwa kita hanyalah seorang budak hamba yang tidak ada target apa-apa dalam hidup ini selain apa yg diperintahkan Allah swt, berjuang mencari ridha Allah swt dan tdk melakukan larangannya dalam kehidupan dunia, “ kata Tusop menjelaskan.

Nah, komitmen seperti ini, seharusnya sangat member dorongan bagi seorang Muslim agar membangun dunia ini, agar membangun bangsa dalam cita-cita ideal sesuai dengan perintah Allah Swt. Dan tentu saja, kata Tusop, model pembangunan terbaik adalah model pembangunan yang diperintahkan Allah Swt kepada manusia.

Lalu kapan hidup dan mati untuk Allah ? Menurut Tusop, pertama, kita harus lakukan apa tujuan kita diciptakan. Allah ciptakan kita adalah untuk beribadah kepadaNya. Inti dari kehidupan ini adalah ibadah, bukan uang atau materi, dan tanpa menghasilkan ibadah berarti waktu itu terbuang tanpa makna.

Tusop mengatakan, siapa yang memuji Allah maka itu lebih baik dari dunia dan seisinya. Misalnya, membacaallahu lailaha illah lahul mulku walahul hamd, walau hanya satu menit, tapi lebih baik dari dunia dan isinya. Dan dalam Alqur’an, kata Tusop, Allah Swt telah berjanji bahwa jika penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa, maka Allah Swt akan membuka pintu keberkahan dari langit dan bumi. Apakah kita ragu dengan janji Allah swt tersebut? Kata Tusop mempertanyakan.

“Membangun Aceh dengan shalat adalah pembangunan yang berorientasi  pada suksesnya perjalanan hidup orang Aceh menuju syurga, bukan menuju neraka. Itu inti pembangunan yang sesungguhnya, karena hidup kita di dunia adalah momentum untuk menuju kehidupan abadi di akhirat, “ kata Tusop lagi.

Sementara dalam rangka menyukseskan berbagai agenda pembangunan Aceh, Tusop mengajak masyarakat Aceh untuk memperkuat arus dan gelombang kebaikan yang hari ini kian melaju.

“Kebaikan tanpa arus yang kuat akan dikalahkan oleh kejahatan yang memiliki arus yang kuat. Kalau orang baik memegang kekuasaan, maka akan menggiring kekuasaan menuju kebaikan. Baru kebaikan menjadi kuat, disaat semua orang kuat memperkuat kebaiakan. Disaat budaya politik tidak memperkuat orang baik, maka akan sulit kebaikan ini bisa kuat. Dan jangan menunggu untuk memperkuat orang-orang baik di sekitar kita. Kalau kita sudah melakukan apa yang kita bisa, maka kita akan bisa melakukan semuanya, “ terang Tusop yang sukses mengelola Radio Yadara ini.

Tusop juga mengingatkan agar umat Islam bisa khusyu’ dalam shalat, agar hati selalu ingat Allah. Sebab, kata Tusop, shalat adalah kesempatan emas untuk mengaktifkan kembali hati yang sudah lupa Allah Swt agar  kembali ingat Allah.

“Shalat yang paling sempurna adalah saat shalat kita mampu melupakan segala persoalan duniawi, dimana yang ada hanyalah Allah swt. Untuk itu, butuh mujahadah dan renungan, sering bertafakkur sehingga munculmakrifah untuk membesrakan Allah swt. Saat kita bermunajat kepada Allah kita sedang menghadapi zat yang paling besar. Orang yang paling dekat dengan Allah adalah saat jika shalat ia mampu melupakannya segala-galanya, ia akan menganggap dunia ini jadi kecil dan yang besar hanya Allah Swt, “ terang Tusop.

Menurut Tusop, sebuah usaha perbaikan itu tidak gampang, yakni hampir sama dengan memperbaiki shalat.  Saat kita mampu menggiring semua orang untuk shalat maka kita akan sukses untuk agenda pembangunan Aceh. Inilah sukses dalam kacamatan keimanan kita sebagai Muslim, kata Tusop. 

sumber:
http://aceh.tribunnews.com/2016/05/13/shalat-berperan-penting-dalam-membangun-aceh

Tu Sop: Ketimbang ‘Berpolitik Tanpa Agama’, Lebih Baik ‘Beragama Tanpa Politik’



Tusop.com |gk H. Muhammad Yusuf A. Wahab, salah satu ulama Aceh yang terjun dalam dunia politik Aceh memberikan orasi politik yang mencerdaskan. Orasi ini disampaikan beberapa waktu lalu saat proses deklarasi Tgk H. Muhammad Yusuf A. Wahab yang akan maju sebagai Calon Bupati Bireuen berpasangan dengan dr. Purnama Setia Budi. 

Orasi ini kami peroleh di Youtube yang diposting oleh akun Atjeh Bireuen. Nampak belasan ribu massa menghadiri acara deklrasi ini.

Berikut beberapa statemen beliau yang kami rangkum:

Kekuasaan tanpa agama akan hancur. Agama tanpa kekuasaan akan lemah. Maka pemikiran umat Nabi Muhammad Saw yang salah dalam memahami politik, maka hari ini harus kita bangun arus perbaikan kembali cara berfikir tentang politik.Secara pribadi saya tidak mampu memperbaiki kerusakan perilaku politik. 

Yang mampu memperbaiki adalah rakyat. Maka hari ini saya naik ke panggung politik, saya matangkan dakwah, saya memanggil kepada seluruh pecinta kebaikan yang ingin menjadikan masa depan lebih baik. Masa depan generasi muda lebih baik.

Dalam konteks demokrasi, baik atau buruknya dunia politik ditentukan oleh masyarakat sendiri. Maka mari tawarkan perbaikan dan kebaikan, karena politik yang baik akan membuat masa depan yang baik untuk bidang kehidupan dan kehidupan setelah kematian.

Politik yang kotor hanya seperti sapu yang kotor yang tidak bisa menyapu tempat yang kotor. Tempat yang kotor yang bisa disapu dengan sapu yang bersih.

Apa arti syari’at jika kita masih melakukan dosa dalam politik. Apa arti syari’at jika kita melahirkan kepemimpinan dalam pengkhianatan. [sumber: suaradarussalam.com]

Orasi lengkap bisa disimak di sini:





Selasa, 23 Agustus 2016

Politik dan Urgensi Sentuhan Ulama



Tusop.com | Menjelang tahun politik 2017, isu soal keikutsertaan kaum alim ulama dalam dunia perpolitikan kembali menggelinding, terutama di media sosial. Beragam tanggapan dan opini pun muncul menanggapi isu klasik ini. Sebagian orang berpendapat bahwa seyogyanya ulama mengambil posisi dalam politik untuk mewarnai dunia perpolitikan dan kekuasaan. Sementara sebagian orang yang lain berargumen bahwa ranah ideal ulama adalah dakwah dan mendidik umat. Dan berpolitik dianggal suatu hal yang tabu bagi kaum ulama.

Namun benarkah ulama tidak boleh berpolitik? Menjawab pertanyaan ini ada beberapa poin yang harus diluruskan. Pertama, politik adalah rahim tempat lahirnya penguasa yang kemudian menjelma sebagai pembuat, pengambil dan perumus kebijakan. Kebijakan-kebijakan politis-kekuasaan yang dirumuskan oleh sebuah rezim kekuasaan sejatinya adalah perencanaan terhadap masa depan bangsa dan umat secara menyeluruh dan berpengaruh untuk jangka panjang, tidak hanya 5 tahun. Oleh karenanya, dunia politik butuh sentuhan-sentuhan para orang-orang bijak dan takut pada Allah, karena jika tidak politik akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mengarahkan bangsa serta umat dalam kehancuran dunia dan akhirat. Dalam hal ini, sentuhan kaum alim ulama menjadi solusi untuk menata perpolitikan dan kekuasaan menjadi lebih baik.

Kedua, tidak bisa dinafikan, bahwa kesemerautan bangsa dan umat kita hari ini ikut dipengaruhi oleh minimnya pengaruh pemimpin dan penguasa dalam mempengaruhi, menata dan mengarahkan umat secara sistematis melalui kebijakan-kebijakan mengikat yang memiliki kekuatan hukum. Padahal kita akui, bahwa jika seorang penguasa memiliki orientasi untuk menyelamatkan umat dunia akhirat, dengan mudah bisa dilakukan secara sistematis dan terencana. Dan dalam hal ini, kehadiran orang-orang yang berorientasi untuk itu sangat dibutuhkan dan disini peran ulama mutlak dibutuhkan.
Ketiga, pola pikir yang salah tentang politik sudah mengkristal dalam masyarakat Aceh. Propaganda untuk memisahkan nilai-nilai agama dalam politik sudah begitu mengakar. Sehingga tak pelak, politik kian jauh dari nilai-nilai moral dan etika. Dan tentu saja, pemisahan agama dari politik adalah malapetaka besar bagi agama dan bangsa itu sendiri.

Dalam konteks ke-Acehan, pemisahan agama dan politik adalah hasil provokasi Snoch Hurgronje untuk melemahkan kekuasaan saat itu. Pemikiran ini lahir karena menurut mereka, kerajaan Aceh sulit ditaklukkan saat karena pengaruh agama yang sangat kuat dalam kekuasaan. Dan selanjutnya, sebagian orang termakan dengan pemikiran ini. Semoga kita tidak termasuk salah satu orang yang terpengaruhi oleh provokasi Snouc Hugronje.

[Testimoni Publik] Tu Sop dan Cerminan “Kejenuhan” Ulama

Oleh Khairil Miswar
Kemarin (25/07/16) sewaktu perjalanan pulang dari Samalanga dalam rangka mewawancarai seorang informan untuk kebutuhan penelitian, sesampai di kawasan Blang Bladeh, mobil butut yang saya tumpangi berjalan seperti merayap. Maju, berhenti, maju dan berhenti lagi. Seketika itu saya bangun dari pembaringan dan melihat jauh ke depan. Ternyata jalanan sedang dilanda macet.
Saya berusaha melihat lebih jauh ke depan, samping dan belakang. Saya melihat ramai sekali masyarakat yang umumnya berkostum putih duduk rapi di mobil bak terbuka yang terus berjalan lambat. Sebagian yang lain menggunakan sepeda motor dan juga mobil minibus. Setelah merayap beberapa saat, mobil butut kami terus mendekat ke Lapangan Geulumpang Payong. Sampai di sana, jalanan juga terlihat macet dari arah timur (arah Matangglumpangdua).
Setelah berusaha melihat kiri-kanan, saya baru tahu bahwa kemacetan tersebut terjadi akibat melimpah-ruahnya massa yang sama-sama menuju Glumpang Payong dalam rangka Deklarasi Pasangan Balon Bupati Bireuen, Tu Sop dr. Pur.
Sebenarnya, saya tidak begitu fokus terhadap perkembangan politik di Bireuen, khususnya dalam beberapa tahun terakhir. Namun, untuk sekedar mengisi waktu kosong, terkadang saya juga berusaha melibatkan diri dalam perbincangan tak penting di kedai kopi terkait beberapa topik hangat yang sedang menjalar di Bireuen seulawet ini.
Mungkin konflik internal Partai Aceh (PA) Bireuen antara pendukung Tuan Khalili versus Tuan Ruslan adalah topik paling hot dalam beberapa minggu ini setidaknya paling hot menurut saya. Namun demikian, kegaduhan itu adalah urusan mereka. Tentunya akan sangat membuang waktu jika kita membincangkannya mereka di sini.
Hasil membaca di beberapa media cetak dan online, saya berhasil mendapatkan sedikit informasi tentang beberapa bakal calon bupati yang akan bertarung merebut Pendopo Kota Juang. Tersebutlah beberapa nama, seperti Haji Saifannur (pengusaha kaya), Amiruddin Idris (Rektor Umuslim), Khalili dari Partai Aceh (saya tidak tahu profilnya), Haji Ruslan (Bupati sekarang), Mustafa A. Geulanggang (mantan Bupati Bireuen), Tgk. M. Yusuf A. Wahab (pimpinan salah satu pesantren di Jeunib dan juga seorang dai) yang dikenal dengan sebutan Tu Sop, dan beberapa nama lain yang tidak begitu populis.

Dari sekian bakal calon yang sudah disebut di atas, kemarin salah satu pasangan telah mendeklarasikan diri untuk maju pada Pilkada (Pilbub) Bireuen mendatang. Kemarin terlihat jelas bahwa massa pasangan Tu Sop dr. Pur melimpah-ruah dan membuat macet jalanan di seputar Kota Bireuen.

Melihat massa yang membludak, sebagian masyarakat atau mungkin timses bakal calon dengan penuh percaya diri membuat status di media sosial: Insya Allah Tu Sop Meunang dan status-status serupa lainnya. Harapan seperti itu tentunya sah-sah saja, setidaknya bisa memompa semangat timses dan juga para pendukung untuk terus bekerja maksimal pada prosesi pilkada nantinya. Namun demikian, prediksi kemenangan hanya dengan menggunakan indikator kerumunan massa adalah terlalu naif.

Pasca Deklarasi Tu Sop dr. Pur, di beranda media sosial, khususnya facebook, juga terdapat beberapa komentar sinis terhadap deklarasi tersebut. Dalam dunia demokrasi, tentu hal semacam ini lumrah saja, di mana kita berhak menyatakan suka atau pun tidak suka kepada sosok tertentu. Sebagai insan merdeka, tentunya kita punya kebebasan untuk menyatakan sikap politik. Namun demikian, dalam menilai sosok tertentu, baik politisi atau siapa pun objektivitas tetap harus dikedepankan.
Hasil pengamatan di media sosial dan juga bincang-bincang kedai kopi, dapat disimpulkan bahwa ada sebagian kalangan yang menginginkan Tu Sop untuk memimpin Bireuen ke depan. Hal ini di antaranya disebabkan oleh ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap para politisi dari partai penguasa. Dalam hal ini, Tu Sop tentunya dengan berbagai argumen logis diharapkan dapat memberi warna baru dalam perpolitikan dan juga pemerintahan Bireuen ke depan. Namun demikian, ada pula sebagian masyarakat yang tidak ingin Tu Sop yang notabene adalah seorang yang alim melibatkan diri dalam kancah politik praktis.
Ketidaksetujuan mereka terhadap keterlibatan Tu Sop dalam dunia politik praktis juga didasari oleh alasan yang berbeda satu sama lain.
Ada sebagian kalangan mendasarkan ketidaksetujuannya dengan maksud untuk menyelamatkan Tu Sop dari dunia politik yang selama ini dianggap telah jauh dari nilai-nilai Islam. Selain itu, ada pula kalangan lain yang tidak setuju dengan kehadiran Tu Sop tersebab akan menjadi duri penghalang bagi calon yang diusungnya.
Terserah alasan mana yang mereka pakai, yang jelas semua orang berhak untuk memberi penilaian dari sudut pandangnya sendiri.
Di sebalik itu dan ini adalah pendapat pribadi, saya melihat kehadiran pasangan Tu Sop dr. Pur yang merupakan kombinasi ahli agama dan ahli medis patut diapresiasi oleh semua pihak, khususnya masyarakat Bireuen. Kehadiran mereka setidaknya dapat memberi pembelajaran politik bagi masyarakat Bireuen, di mana piasan kekuatan politik dominan yang selama ini dianggap mengecewakan akan terus ditantang oleh orang-orang baik.
Jika dulu mereka (mungkin) menyatakan dukungannya kepada kekuatan politik tertentu, maka saat ini mereka memilih untuk menyusun kekuatan politik baru guna menumbangkan kekuatan lama.
Saya melihat, kehadiran Tu Sop di kancah politik Bireuen merupakan cerminan dari kejenuhan ulama terhadap praktik politik selama ini yang entah bagaimana. Praktik politik yang jauh dari nilai-nilai agama, mulai dari teror, money politik dan tindakan-tindakan hina lainnya tentu akan mendorong kaum terpelajar seperti Tu Sop untuk melakukan perlawanan Mungkin, kejenuhan yang sudah memuncak inilah yang mendorong Tu Sop untuk maju ke depan. Tentu ada cita-cita besar yang ingin diwujudkan oleh Tu Sop bersama para pendukungnya.
Tapi, apakah Tu Sop akan mampu mewujudkan cita-citanya? Kita hanya bisa berharap dan berdoa. Wallahu Alam.

link sumber:
http://www.acehtrend.co/tu-sop-dan-cerminan-kejenuhan-ulama/

Tu Sop: Saya Terjun ke Dunia Politik untuk Kebaikan Ummat dan Kabupaten Bireuen

KLIKKABAR.COM, BIREUEN – Calon Bupati Bireuen periode 2017-2022, Tgk. H. Muhammad Yusuf atau yang akrab disapa Tu Sop menyampaikan bahwa ia terjun ke dunia politik bukan karena haus kekuasaan tapi karena permintaan masyarakat untuk memperbaiki ummat dan Kabupaten Bireuen ke arah yang lebih baik lagi.
Hal tersebut disampaikan Tu Sop saat mendeklarasikan diri sebagai Calon Bupati Bireuen periode 2017-2022 di Lapangan Geulumpang Payong, Kabupaten Bireuen, Minggu 24 Juli 2016.
“Saya hadir dalam dunia politik untuk perbaikan ummat dan kebaikan Bireuen, politik harus bisa menguntungkan agama, agama harus menjadi pondasi politik,” ujar Tu Sop.
Pimpinan Dayah Babussalam Al Aziziyah, Jeunieb ini juga mengatakan bahwa agama dan politik harus bisa berjalan beriringan demi kebaikan umat dan bangsa.
“Sudah cukup agama dipisahkan dari politik, sudah cukup politik berlari sendiri tanpa pengawalan agama,” ungkap Tu Sop.
Sementara Ketua Tim Pemenangan Tu Sop, Abi Nasruddin Jeunieb saat menyampaikan sambutannya mengatakan bahwa untuk memperbaiki ummat butuh pemimpin yang tegas dan peduli terhadap agama dan bangsa.
“Pemimpin yang peduli terhadap agama dan bangsa akan mewarnai kebijakan yang pro dengan rakyat dan agama, insya Allah kita akan memajukan agama Allah di Bireuen bersama Tu Sop nantinya,” ujar Abi Nas.
Lanjut Abi Nas, “perbaikan umat hanya bisa diwujudkan melalui ketakwaan, keimanan dan persatuan serta pemimpin yang paham dan peduli terhadap agama,” ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, Tu Sop akan maju berpasangan dengan dr. Purnama Setia Budi, Sp.OG di Pilkada 2017 mendatang. Pasangan ini akan maju melalui jalur perseorangan (independen).
Acara deklarasi tersebut dimulai sejak pukul 14.00 Wib, serta berlangsung dengan khidmat dan meriah yang dihadiri oleh puluhan ribu massa pendukung dari berbagai daerah di Kabupaten Bireuen.
Acara yang disiarkan langsung oleh 6 radio daerah itu, turut dihadiri oleh tokoh-tokoh Bireuen seperti Ulama, tokoh masyarakat, ormas, tokoh pemuda, pengusaha, dan lain-lain sebagainya. []
sumber: 
http://klikkabar.com/2016/07/24/tu-sop-terjun-dunia-politik-kebaikan-ummat-dan-kabupaten-bireuen/

Puluhan Ribu Umat Muslim Hadiri Deklarasi Tu Sop-dr. Pur

ACEHTREND.CO, Bireuen- puluhan ribu umat muslim di Bireuen tumpah ruah ke acara deklarasi bakal Bupati Bireuen, pasangan Tu Sop-dr. Pura (Teungku H. Muhammad Yusuf A. Wahab-dr. Purnama Setia Budi) di Lapangan Glumpang Payung, Kecamatan Jeumpa, Minggu (24/7/2016).
Amatan aceHTrend di lokasi Deklarasi, selain tumpah di lapangan sepakbola itu, massa yang dominan berpakaian putih pun, berjubel sampai ke jalan-jalan sekira 1,5km kiri kanan lapangan.

Massa yang mulai bergerak sejak bakda dhuhur, sangat antusias mendengarkan tausyiah dan komitmen politik pasangan yang maju dari jalur independen itu.
Dalam kesempatan itu, Tu Sop mengajak semua pihak untuk berkompetisi secara sehat. Dia juga mengatakan, agama tanpa politik, akan lemah, sedangkan politik tanpa agama akan membawa kehancuran.


Pimpinan Dayah multimedia itu juga berkata, pasangan tersebut ingin menang secara jujur, untuk itu dia mengatakan, siapapun yang mendukung pasangan tersebut, agar tidak berbuat curang. []

sumber: http://www.acehtrend.co/puluhan-ribu-umat-muslim-hadiri-deklarasi-tu-sop-dr-pur/

Perkuat Arus Kebaiikan, Tu Sop Pastikan Maju Sebagai Balon Bupati Bireuen

Tgk.H. Muhammad Yusuf. A. Wahab
Tusop.com, ULAMA Aceh asal Bireuen, Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab atau biasa disapa Tu Sop Jeunieb, memastikan diri maju sebagai bakal calon bupati Bireuen periode 2017-2022. Pernyataan tersebut disampaikannya di depan ribuan masyarakat Bireuen di Komplek Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, Senin (9/5) sore.

Dalam sambutannya, Tu Sop memaparkan bahwa kehadiran dirinya dalam dunia politik praktis adalah upaya untuk menyampaikankepada umat, khususnya masyarakat Bireuen, bahwa dunia politik tidak bisa dipisahkan dari agama. Apabila agamawan tidak hadir membawa misi-misi gama dan moral dalam dunia politik, maka politik itu akan menjadi malapetaka bagi agama dan masadepan bangsa.

“Dalam masyarakat Islam, Aceh khususnya, telah mengakar sebuah paradigma yang mendikotomikan dunia politik dari Islam. Sehingga unia politik tidak hadir sebagai sebuah kekuatan yang memperkuat misi-misi Islam, malah justru sebaliknya. Sementara Islam sebagai kebaikan universal membutuhkan dukungan dari semua sektor, agar nilai-nilai kebaikanmuncul sebagai arus yang kuat dalam kehidupan umat”, terang Tu Sop.

Lebih lanjut, Tu Sop juga mengakui bahwa sejauh ini politik sudah jauh bergeser dari nilai-nilai dealis. Untuk memperbaiki semua ini butuh waktu yang cukup, tetapi bukan berarti problematika ini terus dibiarkan menjadi semakinparah.

“Kita mengakui bahwa memperbaiki tatanan politik yang sudah sedemikian parah bukan pekerjaangampang. Tidak mungkin dalam waktu yang singkat kita bisa memperbaiki semua. Tetapi kehadiran kita ingin memperbaiki semua yang bisa diperbaiki, tanpamenunggu bisa memperbaiki semua”, lanjutnya.

“Saya tahu keputusan yang saya ambil ini penuh resiko, tetapi saya siap menghadapi resiko demi kebaikan bersama dan masa depan anak cucu kita nantinya. Sebab tiada kebaikan tanpa perbaikan, dan sulit memperbaiki tanpa kekuatan. Maka ketika masyarakat Bireuen sudah memiliki cita-cita untuk kebaikan, saya tidak akan menolaknya”, ucap Pimpinan Dayah Babussalam Al- Aziziyah Jeunieb ini.

Tu Sop juga menegaskan, bahwa dirinya sampai saat ini komit untuk maju melalui jalur independen. “Insya Allah saya akan maju melalui jalur independen. Sebab ini yang menjadi keinginan masyarakat dan ini masih posisi bakal calon, belum calon”, tegasnya. (adv )

http://aceh.tribunnews.com/2016/05/11/tu-sop-jeunieb-pastikan-maju-sebagai-balon-bupati-bireuen


[Renungan-Tusop] Jalan ke Syurga Memang Tidak Gampang



Tusop.com | Perjalanan menuju surga merupakan sebuah perjalanan yang berat dan penuh lika-liku. Ibarat menerobos jalan terjal yang licin ditengah belantara dalam keadaan seorang diri dibawah hantaman hujan lebat sedang mengguyur. Sementara disaat yang sama, beban yang dipikul di pundak menggunung, pendakiannya jauh, jalanan penuh duri dan hewan-hewan buas yang kelaparan siap menerkam setiap saat.

Dalam kompleksitas problematika dan tantangan yang harus dihadapi, mau tidak mau, tidak ada pilihan lain, kita harus tetap melanjutkan perjalanan, tidak boleh menyerah agar sampai ke tujuan sebelum malam tiba dan tidak ikut tertinggal bersama mereka yang akan binasa.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi perjalanan menuju neraka. Dimana jalan yang dilalui datar dan mulus, tidak ada tantangan dan halangan yang harus dihadapi bahkan perjalanannya cendrung menyenangkan. Perbedaan kondisi ini jauh-jauh hari sudah digambarkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

Ketahuilah, sesungguhnya surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci (hawa nafsu) dan sesungguhnya neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disukai (hawa nafsu)

Didalam hadist yang Rasulullah saw juga menggambarkan: 

Ketahuilah, sesungguhnya neraka itu berat (diraih) karena ketinggiannya dan sesungguhnya neraka itu ringan (didapatkan) karena kerendahannya

Surga memang dilingkari oleh hal-hal yang tidak disenangi. Ya, tidak disenangi karena tidak sesuai dengan tabiat nafsu dan syaitan yang cendrung menggiring manusia dalam kehancuran dan kebinasaan. Sementara neraka disekeliling ditaburi hal-hal yang disenangi.

Ya, disenangi karena bisikan nafsu dan syaitan yang menginginkan manusia sesat dalam menjalani kehidupan. Sehingga wajar perjalanan ke surga menjadi berat karena harus menanggung beban yang muncul karena melawan panggilan nafsu dan syaitan.

Sementara perjalanan ke neraka menyenangkan. Ya, menyenangkan karena sesuai dengan talbis (pengaburan) nafsu dan syaitan yang cendrung ingin menghancurkan kita.

Perjalanan ke surga memang sulit dan penuh beban. Wajar, karena surga adalah target besar yang harus digapai dengan perjuangan dan pengorbanan. Sementara perjalanan ke neraka memang gampang dan mulus.

Wajar, karena neraka adalah target rendahan yang bisa didapati oleh siapa saja, bahkan tanpa harus melakukan apa-apa. Dalam persoalan duniawi saja, hal-hal besar tidak gampang untuk didapatkan. Untuk mendapatkannya seseorang harus melalui proses panjang yang penuh lika-liku.

Sementara hal-hal kecil dan rendahan, bisa didapatkan oleh siapapun, bahkan tanpa harus menyisingkan lengan baju sekalipun. Dan esensinya, ketangguhan menahan beban dalam melewati tantangan-tantangan besar inilah yang menjadi ciri orang-orang besar.

Sebab orang besar tidak lahir dari proses perjalanan yang ringan. Tetapi orang besar lahir dari kesanggupan mereka melawan beban dan melewati tantangan-tantangan yang besar pula. Jika untuk mendapatkan hal besar duniawi saja butuh perjuangan dan pengorbanan, tidak mungkin untuk meraih surga yang jauh lebih besar dari apapun yang ada di dunia jalannya lempang.

Comments System

Disqus Shortname

Diberdayakan oleh Blogger.