Kamis, 20 Oktober 2016
Tu Sop Coffee Morning Dengan Tokoh dan Aktivis Muda
Selasa, 11 Oktober 2016
Seribuan Masyarakat Kota Juang Silaturrahmi Dengan Tu Sop
Minggu, 09 Oktober 2016
[Testimoni Publik] Saatnya Ulama Menjadi Umara
Oleh Ihsan M. Jakfar
BELAKANGAN ini, diskursus tentang ulama menjadi umara kembali bergulir menjadi topik pembahasan menarik. Hal ini dilatarbelakangi oleh kemunculan beberapa nama dari kalangan ulama yang disebut-sebut akan ikut meramaikan bursa calon kepala daerah pada Pilkada mendatang. Menanggapi hal ini, beragam pendapat dan pandangan pun bermunculan. Tentu saja ini merupakan bagian dari perkembangan khazanah pemikiran yang harus dihormati.
Dalam konteks keacehan, kehadiran ulama dalam dunia politik, baik secara struktural maupun kultural, sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan. Dalam catatan lintas sejarah Aceh, ulama nyaris selalu hadir dalam politik dari masa ke masa memberikan sumbangsihnya untuk negeri ini. Baik di era otokrasi maupun demokrasi, kaum waratsatul anbiya ini eksis berupaya mempengaruhi pemikiran dan kebijakan-kebijakan para penguasa. Intinya, kehadiran kaum ulama dalam politik tidak bisa dinafikan. Walaupun pergerakan dan strategi politiknya kerap berubah dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan.
Namun demikian, tidak bisa dinafikan bahwa dunia politik kita dewasa ini masih sarat dengan berbagai problem multidimensi, mulai dari hulu hingga ke hilir. Betapa tidak, di hulu, dunia politik kita masih disetir oleh birahi kepentingan pragmatis. Sehingga praktek-praktek politik yang jauh dari nilai-nilai idealisme, etika dan kesantunan menjadi tontonan yang tak terhindarkan. Di hilir, dunia politik kita dikangkang oleh keserakahan dan kepentingan politik pragmatis. Sehingga kebijakan-kebijakan yang kemudian dilahirkan tidak kunjung berpihak pada kebaikan dan perbaikan bangsa, agama dan umat jangka panjang secara memadai.
Dalam konteks ini, kehadiran ulama sebagai agen kebaikan dan perbaikan dalam dunia perpolitikan, sejauh ini, belum mampu mengurai persoalan. Pengaruh ulama dalam politik dan kebijakan politis-pemerintahan masih belum cukup kuat. Hal ini ditandai dengan minimnya nasihat-nasihat ulama yang terealisasikan dalam praktek politik dan kebijakan politis-pemerintahan. Lemahnya pengaruh ulama dalam kebijakan politis, bukan karena kaum ulama tidak bekerja secara maksimal dalam mencerahkan maupun menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan perbaikan. Ulama sudah bekerja cukup maksimal sesuai kapasitas yang dimiliki. Tetapi ada persoalan lain yang membuat dakwah ulama diterima secara dhahir tetapi diabaikan dalam kebijakan.
Belum cukup kuat
Dalam telaah penulis, ada dua faktor paling dominan yang membuat pengaruh ulama belum cukup kuat. Pertama, kehadiran ulama dalam dunia politik, baik secara struktural maupun kultural, tidak dibarengi dengan nilai tawar politik yang cukup kuat. Sehingga pemain-pemain politik kerap hanya menerima kehadiran ulama sebatas sebagai pelengkap semua unsur demi kepentingan stabilitas politik semata, tanpa ada keseriusan menampung aspirasi keulamaannya. Hal ini tentu disebabkan oleh posisi ulama dalam politik yang masih lemah. Sejauh ini kehadiran ulama dalam politik berada pada posisi pendukung lepas bagi kandidat politik praktis tertentu dan dalam konteks politik-pemerintahan ulama berada pada posisi penasehat bagi pemegang kewenangan. Kedua posisi ini secara politis tidak memiliki nilai tawar yang cukup kuat. Sehingga nasehat ulama bisa saja didengar dengan cukup baik tetapi kerap kali tidak terealisasikan secara baik dan serius dalam kebijakan.
Kondisi ini akan menjadi semakin parah apabila kekuatan politik berada di tangan orang-orang yang tidak memiliki kemauan atau kemampuan untuk memahami konsep-konsep yang ditawarkan oleh ulama. Lemahnya kemauan bisa jadi karena lemahnya karakter dan kesadaran personal politisi terhadap idealism, kebaikan dan perbaikan yang menjadi substansi dakwah ulama. Hal ini berimbas timbulnya benturan kepentingan dan misorientasi antara kedua elemen ini. Sementara lemahnya kemampuan bisa jadi diakibatkan oleh lemahnya pengetahuan dasar politisi akan prinsip-prinsip dasar idealisme kebaikan dan perbaikan yang didakwahkan ulama. Sehingga walaupun sang politisi memiliki niat baik, tetapi dalam praktiknya apa yang ditawarkan ulama tidak terterjemahkan dalam kebijakan-kebijakan di lapangan secara tepat. Apalagi, kesibukan masing-masing membuat komunikasi untuk membangun kesepahaman antara keduanya sulit terjalin secara intens dalam kapasitas yang memadai.
Kedua, mengkristalnya paradigma berpikir di kalangan umat dalam berbagai level yang menempatkan ulama sebagai komunitas yang ekslusif dalam bidang keagamaan. Hal ini menimbulkan kesan seolah-olah ulama hanya memiliki kapasitas mengurusi bidang keagamaan dan tidak relevan mengurusi bidang-bidang kehidupan umat lainnya, terlebih politik. Paradigma ini adalah peranakan dari pemikiran sekular-liberal yang mendikotomikan antara agama dan politik. Dalam kondisi seperti ini, pengaruh ulama dalam sektor kehidupan non keagamaan, termasuk politik dan pemerintahan menjadi sangat lemah. Padahal nilai-nilai Islam yang didakwahkan ulama harus menyasar semua sektor kehidupan. Karena sebagai agama yang universal, Islam tidak hanya mengatur tentang peribadatan dhahir semata tetapi juga menjadi konsep kehidupan secara komprohensif.
Dua faktor ini menjadi pangkal tidak cukup kuatnya pengaruh ulama dalam politik yang berimbas tidak tertatanya politik dengan baik. Baik dalam aktivitas politik praktis maupun dalam pemerintahan. Padahal politik berperan penting dalam proses pembangunan peradaban sebuah bangsa. Sebab politik adalah sumber kekuatan strategis yang mampu menggiring bangsa ke arah yang lebih baik atau sebaliknya, ke arah yang lebih buruk. Jika diibaratkan sebagai sebuah persalinan, politik adalah rahim tempat lahirnya pemimpin dan kebijakan-kebijakan publik yang strategis sebagai manifestasi perencanaan bagi masa depan bangsa dalam berbagai sektor. Tentu saja anak yang dilahirkan tidak bisa dipisahkan dari karakter sang ibu. Politik yang baik akan membuka harapan lahirnya pemimpin dan kebijakan publik yang baik pula. Sebaliknya, politik yang buruk hanya akan melahirkan parasit dan predator bagi masa depan.
Pelopor kebaikan
Oleh karena demikian, politik tidak bisa dianggap sebagai lahan kosong yang bisa ditelantarkan. Kaum ulama sebagai pelopor kebaikan dan perbaikan seyogyanya hadir secara serius dan kontinyu dengan pengaruh dan konsep yang cukup kuat untuk mengintervensi politik dengan nilai-nilai idealisme, kebaikan dan perbaikan. Apabila dalam posisi berada di posisi yang lemah dalam politik praktis, pengaruh ulama tidak kunjung membawa perubahan ke arah yang lebih baik, umat harus siap mendukung sepenuh hati agar ulama menduduki posisi strategis dalam politik praktis untuk memperkuat eksistensi dan pengaruhnya dalam perbaikan.
Melihat kondisi perpolitikan yang tak kunjung membuat kita merasa optimistis akan menuju ke arah yang lebih baik, serta kekhawatiran kita akan semakin mengkristalnya pemikiran secular-liberal yang melemahkan eksistensi agama dan ulama dalam politik hingga akhirnya politik akan semakin jauh dari nilai-nilai agama, maka sejauh pemikiran penulis, sudah sampai saatnya ulama menjadi umara. Artinya, kaum ulama harus memegang kendali pemerintahan untuk memperbaiki kondisi perpolitikan dan meluruskan paradigma politik sesat yang sudah begitu mengkristal.
Ulama terjun dalam politik praktis dengan mencalonkan diri sebagai kepala pemerintahan memang tidak begitu populis. Mengingat selama ini ulama lebih cendrung menjadi pendukung kandidat lain dalam pilkada dan menjadi pendamping bagi leader pemerintahan. Selain itu juga adanya kekhawatiran bahwa jika seorang ulama terjun dalam politik praktis, marwah keulamaannya akan terkotori oleh stigma politik yang negatif. Namun pertanyaan mendasar, jika ulama tidak kuat dalam politik, pada siapa kita berharap perbaikan?
Sejauh ini, ulama dalam posisi “mendampingi umara” tidak kunjung kuat untuk memperbaiki keadaan. Maka sudah sepantasnya wasaf imarah (keumaraan) harus menyatu dengan ulama. Artinya, sudah saatnya yang menjadi umara adalah ulama. Ulama menjadi umara memang bukan hal yang mutlak dan substansial. Substansialnya adalah bagaimana ulama harus memiliki power yang cukup untuk melakukan perbaikan. Manakala perbaikan tidak mampu dilakukan oleh ulama tanpa menjadi umara maka menjadi umara adalah pilihan yang harus dipilih walau sulit dan penuh pengorbanan. Tentu, ulama yang dimaksud adalah ulama yang memiliki karakter yang kuat, wawasan politik yang luas serta memiliki naluri untuk berpolitik.
* Tgk. Ihsan M. Jakfar, Ketua Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA), mahasiswa Fakultas Dakwah IAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen. Email: ihsan_jeunieb@yahoo.com
Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2016/07/29/saatnya-ulama-menjadi-umara.
Sabtu, 08 Oktober 2016
Malam Ini Tu Sop Isi Pengajian Tastafi Bulanan di Lamlo
TUSOP.COM, Lamlo - Malam ini, Tgk H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab atau biasa disapa Tu Sop mengisi pengajian Tasawuf, Tauhid dan Fiqih (Tastafi) rutin bulanan di Mesjid Kecamatan Lamlo, Pidie, Sabtu 8 Oktober 2016. Pengajian ini dilaksanakan rutin setiap malam Minggu akhir bulan dan sudah mulai berjalan sejak bulan Februari 2016.
Pengajian ini selain bisa diikuti langsung, juga bisa disimak melalui frekuensi beberapa Radio. Yaitu Radio Yadara FM, 92.8 MHz, Radio Mutiara FM, dan juga bisa disimak via live streaming di www.dayahmultimedia.com dan www.tusop.com.
Sebelumnya, pada Kamis malam, Tu Sop juga mengisi pengajian bulanan di Masjid Besar Baitul Kiram, Pandrah dan pada Jumat malam di masjid Baitunnur peudada, Jumat Ketiga di Masjid Tgk di Awe Geutah, malam Kamis akhir Bulan di Masjid Kecamatan Plimbang dan Jumat kedua di Alun-Alun Kota Geurugok.
Tu Sop-dr. Pur Silaturrahmi Dengan Ribuan Masyarakat Samalanga
![]() |
| Masyarakat antusias mendengar pencerahan politik dari Tu Sop |
TUSOP.COM, Samalanga - Bakal calon Bupati-Wakil Bupati Bireuen dari jalur independen, Tgk H Muhammad Yusuf Abdul Wahab-dr. Purnama Setia Budi, Sp.OG (Tu Sop-dr. Pur) melakukan silaturrahmi dengan ribuan masyarakat kecamatan Samalanga, Sabtu 8 Oktober 2016. Kegiatan tersebut dilaksanakan di gampong Pulo Baroh, Batee Iliek, Kecamatan Samalanga.
Pantauan tusop.com, Tu Sop hadir ke tempat acara di damping oleh calon wakil dr. Purnama Setia Budi, Sp.OG, ketua Tim Pemenangan, Abi Nasruddin Judon dan sejumlah rambongan lainnya. Sementara sekitar 3000-an masyarakat sudah terlebih dahulu memadati tempat acara sejak pagi.
Kegiatan silaturrahmi ini diisi dengan pencerahan politik yang disampaikan oleh Abi Nasruddin Judon dan Tu Sop sendiri. Dalam pencerahannya, Tu Sop menggambarkan bahwa budaya dan perilaku politik dewasa ini sudah jauh bergeser dari nilai-nilai etika dan agama. Dimana politik menjadi ajang fitnah menfitnah, caci maki dan ghibah. Kondisi ini menurut Tu Sop tidak bisa dibiarkan. Sebab akan menjadi predator bagi masa depan bangsa, agama dan umat itu sendiri.
“Harus ada pergerakan rakyat secara kolektif untuk menumbuhkan kesadaran dan kesepahaman bersama guna memperkuat budaya politik positif dan menghindari perilaku dan budaya politik kotor. Sudah. Sudah cukup politik menjadi ajang dosa”, tegas Tu Sop. (IJ)
![]() |
| Tu Sop sedang menyampaikan pencerahan politik |
![]() |
| Ibu-ibu juga turut hadir |
Jumat, 30 September 2016
Penuhi Syarat, Tu Sop-dr. Pur: Ini Berkat Kerja Keras Tim!
TUSOP.COM, Bireuen - Pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Bireuen, Tgk H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab-dr. Purnama Setia Budi, Sp.OG dinyatakan memenuhi semua administrasi persyaratan pencalonan dan persyaratan calon. Hal tersebut disampaikan oleh ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Bireuen, Mukhtaruddin, SH, MH, didampingi 4 komisioner lainnya, Sabtu 1 Oktober 2016.
Menanggapi hal ini, kepala staf administrasi Tu Sop-dr. Pur, Nuruzzahri S.Pd menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari hasil kerja keras semua tim, baik tim di lapangan maupun staf administrasi yang bekerja tanpa pamrih siang dan malam.
"Kami atas nama Tim Tu Sop-dr. Pur mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua tim. Apa yang kita peroleh hari ini adalah hasil kerja keras kita semuanya", tegas sosok yang biasa Waled ini.
Sebagaimana diberitakan media, pasangan Tu Sop-dr. Pur merupakan satu-satunya pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Bireuen yang dinyatakan lengkap dan memenuhi persyratan. Sementara lima pasangan lainnya dinyatakan belum memenuhi persyaratan dan harus diperbaiki kembali sampai batas waktu yang sudah ditentukan.
Minggu, 25 September 2016
Alhamdulillah, Tes Kesehatan Tu Sop Berjalan Lancar
Banda Aceh - Tes kesehatan bakal calon Bupati Bireuen dari jalur independen, Tgk H. M. Yusuf Abdul Wahab atau biasa disapa Tu Sop berjalan dengan lancar tanpa kendala satu apapun. Sejumlah pemeriksaan sudah usai dan sekarang tinggal menunggu tahap akhir.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, calon Gubernur-Wakil Gubernur, Bupati-Wakil Bupati dan Walikota-Wakil Walikota yang ikut dalam Pilkada serentak 2017 mengikuti tes kesehatan sejak kemarin, Sabtu 24/9 dan dijadwalkan berakhir hari ini. Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA), Banda Aceh.
"Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Tentu ini juga berkat doa kita semua. Semoga tahap demi tahap bisa dilewati dengan baik dan sempurna ke depan", cetus Nuruzzahri, staf khusus Tu Sop.
Jumat, 23 September 2016
Pagi Ini Tu Sop Ikuti Tes Kesehatan di RSUZA
TUSOP.COM -Banda Aceh, Bakal calon Bupati Bireuen, Tgk H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab (Tu Sop) pagi ini mengikuti tes kesehatan di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA), Banda Aceh, Sabtu, 24/9/2016. Tes kesehatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari tahapan Pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada Februari 2017.
Tu Sop hadir di RSUZA pada pukul 07.00 wib di dampingi oleh pendampingnya dr. Purnama Setia Budi, Sp.OG, staf khusus Tim Pemenangan, H. Jaswadi, sekretaris tim pemenangan, Tgk Ihsan M Jakfar dan beberapa staf lainnya.
Tes kesehatan dijadwalkan mulai Sabtu, 24/9 hingga Minggu, 25/9/2016. Selain Tu Sop, uji kesehatan ini turut dihadiri oleh seluruh kandidat calon Gubernur-Wakil Gubernur, Bupati-Wakil Bupati dan Walikota-Wakil Walikota seluruh Aceh yang ikut dalam Pilkada 2017.
Kamis, 08 September 2016
3 Pesan Tu Sop Untuk Santrinya
| Tu Sop bersama Ustaz Yusuf Mansur sesaat menjelang Talkshow di Radio Yadara FM, 92,8 MHZ, Jeunieb, Kab. Bireuen pada Desember 2015. |
Tu Sop Isi Diskusi Publik Bertema Politik dan Ulama
| Tu Sop duduk di meja narasumber sesaat setelah acara dimulai |
| Tu Sop diskusi ringan dengan DR. Amiruddin Idris, SE., M.Si |





Social Media Icons